Jarimatika : Metode Hitung Cepat memakai Jari

Pengenalan Teknik Jarimatika, Sebuah Pengantar

Sudah pernah mendengar kata Jarimatika. Dari kata-kata yang tersusun saja, anda pasti sudah menduga, apa arti jarimatika. Jarimatika adalah teknik hitung cepat yang menggunakan jari dalam menghitung. Dengan menggunakan jari jari saja, teknik jarimatika mampu menghitung operasi penjumlahan, pengurangan sampai 99. Sedangkan untuk perkalian dan pembagian, teknik jarimatika mampu menghitung sampai dengan 5000.

Jarimatika pertama kali diperkenalkan oleh Septi Peni Wulandari, seorang ibu rumah tangga. Metode ini sangat efektif karena tidak membebani otak anak dan dengan alat bantu yang selalu tersedia.

Dalam posting kali ini, yang rencananya akan saya buat sebagai seri, saya akan mengupas tentang bagaimana teknik ini bekerja, khususnya teknik jarimatika penambahan dan pengurangan. Untuk pembagian dan perkalian, saya masih akan fikirkan kemudian, karena berdasarkan pengamatan sebentar, tampaknya metode perkalian dan pembagian perlu banyak menghafal.

Untuk anda yang tertarik dengan teknik Jarimatika ini, anda dapat membeli buku dari Septi Peni Wulandari dengan judul Jarimatika. Ada banyak pengarang dan penerbit yang menerbitkan buku serupa, namun menurut saya, buku karangan sang pengarang metode, Septi Peni Wulandari, lebih pas dan lebih mudah.

Ada 2 seri buku, yaitu penjumlahan dan pengurangan, dan yang kedua adalah perkalian dan pembagian. Kalau mau, silahkan beli dua-duanya, toh, tidak akan menguras kantong, karena harganya dalam kisaran dibawah 15 ribu.

Tentang Septi Peni

Septi Peni Wulandari mungkin tak pernah menyangka bila peristiwa mengajari anaknya belajar berhitung 10 tahun lalu bisa menjadi fenomena di kemudian hari. Gara-garanya, ia geli melihat buah hatinya berhitung menggunakan semua jari di tangan dan kakinya. Ia pun tertantang menciptakan metode berhitung yang mudah dan menyenangkan bagi anaknya. Usaha ibu rumahtangga berusia 36 tahun ini tak sia-sia. Ia akhirnya menemukan metode berhitung dengan jari yang ia namakan Jarimatika. Metode tersebut ia tularkan kepada ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Juga, kepada para ibu di kelompok-kelompok kegiatan yang ia ikuti.

Suatu hari, keisengan Septi berbuah manis. Dalam sebuah pertemuan dengan anggota kelompoknya di Depok tahun 2003, ia bertemu dengan salah seorang karyawan penerbit buku Kawan Pustaka Agromedia yang berdomisili di kota tersebut.

Penerbit tersebut tertarik untuk membukukan metode Septi. Muncullah buku berjudul Jarimatika, Penambahan dan Pengurangan tahun 2003 setebal 60 halaman dengan harga Rp 14.000. Setahun berikutnya muncul buku seri kedua berjudul Jarimatika, Perkalian dan Pembagian. Buku yang tebalnya kurang lebih sama dengan buku sebelumnya ini dihargai Rp 18.000. Penerbit juga menjual dalam bentuk paket berupa buku seri pertama dan kedua, CD berhitung, dan poster pada tahun 2007. Harganya Rp 56.000. Respons pasar ternyata sangat bagus. “Seri pertama bahkan sudah diproduksi sampai cetakan ke-23,” aku Septi sumringah.

Merasa bahwa metode yang dia telurkan mempunyai potensi bisnis, Septi lalu mulai menggandeng sejumlah ibu rumah tangga untuk secara serius mengembangkan dan menyebarkan metode berhitung ini. Ia sendiri lalu mendirikan Yayasan Jarimatika Indonesia pada tahun 2006. Pemberdayaan ibu-ibu rumahtangga tersebut mampu menciptakan tempat kursus berhitung di 130 kota di Indonesia. Dengan jumlah tempat kursus belajar mencapai 660 unit.

Di luar kursus belajar berhitung, di dalam jaringan Jarimatika juga tumbuh kegiatan bisnis berupa produksi alat-alat peraga berhitung kreatif bagi anak hingga bisnis pembuatan seragam kursus. “Masing-masing unit ini saling melakukan barter dari produksi masing-masing,” ujar Septi. Kursus belajar berhitung Jarimatika diperuntukkan untuk anak usia 3 tahun–12 tahun. Dalam satu unit, biasanya terdiri dari minimal empat pengajar.

Biaya yang dipungut bagi peserta kursus antara Rp 75.000–Rp 100.000 per bulan. Pertemuan berlangsung dua kali seminggu. Kursus yang terdiri dari empat tahapan ini berlangsung selama setahun. Septi mengaku juga melayani kursus belajar bagi ibu-ibu rumahtangga. Tujuannya supaya mereka bisa mendampingi anak-anaknya saat belajar. Biaya yang dipungut sama. Namun, jika peserta ingin mengikuti kursus singkat maka bisa mengikuti kursus dua hari pada Sabtu dan Minggu dengan biaya Rp 300.000.

Satu yang menarik, di luar kursus yang sifatnya komersial, Septi menerapkan model subsidi silang. Dari setiap 10 anak peserta kursus, akan disisihkan dana untuk memberikan kursus gratis bagi seorang anak yang tidak mampu.

Ada juga konsep Jarimatika Pedesaan yang diterapkan Septi sejak 2009 silam. Ini adalah bentuk kepedulian sosial dengan mengajarkan berhitung kepada masyarakat pedesaan. Biaya kursus berupa hasil bumi paling potensial di desa tersebut. Hasil bumi tersebut lalu diolah pihak Jarimatika dan dijual. “Kami sengaja tidak memberi gratis agar masyarakat mau berusaha,” katanya.

Selain itu, Septi juga menggandeng TNI AD dan AL untuk mengajarkan Jarimatika kepada anak-anak di daerah perbatasan Papua dan Pulau Sebatik yang terbatas akses pendidikannya. Hal ini ia lakukan sejak tahun 2008. Dari total 660 tempat kursus Jarimatika yang tersebar di seluruh Indonesia, 500 unit di antaranya bergerak di wilayah bisnis, sedangkan sisanya bergerak di wilayah sosial. Dari 500 unit untuk bisnis, hanya 25% yang dimiliki Yayasan Jarimatika Indonesia. Sisanya dimiliki mitra dengan skema waralaba. Investasi waralaba Jarimatika sebesar Rp 9,5 juta dan berlaku selama lima tahun.
Modelnya bagi hasil per bulan. Yakni, 60% untuk franchisee dan 40% untuk yayasan. Dalam sebulan, yayasan Septi bisa meraup omzet ratusan juta rupiah. Untuk melindungi idenya, ibu tiga anak ini mendaftarkan idenya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sejak 2005 silam. Ke depan, Septi mempunyai obsesi untuk membawa Jarimatika ke kancah dunia. Slogan “Jarimatika Menggenggam Dunia” pun menjadi fokusnya dari 2010 hingga 2015 mendatang.

Caranya, Septi akan menjalin kerjasama dengan ibu-ibu di setiap Kedutaan Besar Indonesia untuk membuka kursus ini. Terutama, untuk melayani masyarakat Indonesia di sana. “Beberapa yang sudah saya dekati, seperti Malaysia, Bahrain, dan Abu Dhabi,” beber Septi kalem. Untuk mendapatkan jaringan tersebut, Septi bekerja sama dengan Ashoka, sebuah lembaga yang fokus dalam pemberdayaan kewirausahaan sosial. Salah satu prestasi Septi, Maret 2010 ini Pemerintah Propinsi Bangka Belitung sudah memasukkan Jarimatika ke dalam kurikulumnya. (Kontan)

 

Selanjutnya, mari kita bersama-sama belajar konsep jarimatika ini dimulai dari pengenalan formasi satuan  dan puluhan

Istilah Pencarian:

Klik untuk melihat isi list

Leave a Reply