Kali ini tentang berita aktual seputar pesawat SUKHOI. Banyak cerita mistis yang memang dialami orang-orang yang terlibat dalam proses pencarian korban. Baik yang secara langsung di lokasi maupun orang-orang yang ada di areal setiap posko.
Seorang lelaki yang tergabung dalam regu pada tim pencarian korban Sukhoi yang pertama kali diterjunkan ke Gunung Salak menceritakan pengalamannya saat ia berada pada ketinggian 1.700 kaki, pos terakhir tak jauh dari titik kordinat pesawat jatuh. Pada hari Sabtu dinihari, tanggal 12 Mei 2012, ia dan sekitar sembilan anggota regu lainnyabermimpi basah barengan saat sedang tertidur.
"Kami mimpi basah secara bersamaan," kata dia.
Anehnya, menurut dia mimpi basah karena berhubungan seks yang dialami seluruh anggota regu cukup identik. Awalnya mereka bermimpi disambut seorang wanita cantik pada sebuah rumah di puncak gunung tersebut.
"Perempuan itu menyuguhi kami air minum," kata dia bercerita.
Tak lama berselang, mereka langsung diminta masuk ke dalam rumah itu untuk istirahat. Tetapi di dalam rumah, ternyata ada banyak perempuan yang tak kalah cantiknya dengan yang menyambutnya tadi. Setelah itu, para perempuan itu mencumbui mereka lalu berhubungan seks layaknya suami istri.
Cerita mistis lain juga dialami seorang pendaki yang pernah menjelajahi Gunung Salak. Kini ia bergabung dengan tim SAR sebagai sukarelawan pencari korban jatuhnya pesawat Sukhoi. Menjelang pendakian, ia banyak berkonsultasi dengan masyarakat yang berada di sekitar gunung
tersebut.
"Banyak pantangannya disini," ujarnya.
Ia mengaku pernah menghiraukan pantangan penduduk untuk tidak mengambil bunga anggrek saat mendaki beberapa bulan lalu ke Gunung Salak. Maklum, kata dia, di sana banyak anggrek berbagai jenis yang cukup indah. Tapi apa yang terjadi. Timnya malah tersesat saat ingin pulang. Sepanjang hari mereka hanya berputar di puncak Gunung Salak secara berulang sampai malam hari.
Anggrek itu pun di simpan di salah satu tempat, timnya kemudian shalat Isya. Setelah shalat, timnya kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Ternyata jalan pulang hanya ditutupi ranting padahal kami sudah beberapa kali lewat di depan ranting itu," ujarnya sambil menggelengkan kepala.
Ia juga mengaku bertemu seorang nenek-nenek berusia sekitar 80 tahun di puncak gunung tersebut. Perempuan tua yang sudah bungkuk itu berjalan sendirian di sebuah padang dengan hanya memakai pakaian tipis.
"Kami tanya mau ke mana Nek, dia bilang hanya jalan-jalan," kata dia menirukan pernyataan nenek tersebut.
Saat ditanyai di mana tempat tinggalnya, wanita tua itu hanya menjawab,"Di sini Nak." Nenek itu menolak di antar ke kaki gunung. Pendaki ini melanjutkan, perempuan tua itu lalu bilang, "Saya senang di sini karena ramai bila malam, mereka sering kasih saya makan," tanpa menyebutkan siapa mereka yang dimaksud.
Yang mengherankan lagi, kata pendaki itu, si Nenek berbahasa Jawa kental, padahal mayoritas masyarakat di kaki gunung berbahasa Sunda. "Kami pun meninggalkan nenek itu sendirian," ujarnya.
Di antaranya kejadian di malam ke 9 atau jelang dihentikannya pencarian korban atau Kamis(117/5) malam. Ade, salah seorang anggota korem 061/Surakencana, menceritakan kejadian yang dialami sopir mobil avtur (bahan bakar buat pesawat) di area helipad Pasir Pogor.
Di malam itu, sang sopir tengah tertidur di dalam mobil avtur, sekitar tengah malam, pintu mobil avtur ada yang mengedor. Sang sopir pun terbangun.
Ketika pintu dibuka, ternyata sang sopir melihat sesosok orang yang tidak jelas kelaminnya dengan kondisi hancur total dari kepala hingga bagian tubuh bawahnya.
Cerita lain, Jumat (18/5) pagi tadi rencananya pihak tim SAR gabungan berencana untuk merenovasi sebuah makam yang berada di Puncak Salak Satu. Makam itu rusak pada saat pembukaan jalur atau lahan untuk pendaratan pesawat helikopter.
Awalnya sang pilot hendak mengajak seorang kuncen untuk merenovasi makam tersebut. Namun terkendala dengan peralatan pembangunan yang belum lengkap, niat itu dibatalkan/ditunda.
Sang pilot tetap menjalankan tugasnya untuk mengantar pasukan SAR Indonesia yang mengawal tim SAR Rusia pagi itu. Sesampainya di puncak Salak I, sang pilot terkaget-kaget karena di area makam tersebut, sang kuncen sudah sampai dan setengah duduk di atas makam.
Karena tidak percaya dengan hal tersebut, sang pilot coba berkomunikasi lewat radio dengan tim yang ada di bawah. Setelah dicari, ternyata sang kuncen berada di bawah.
Kemudian, karena merasa ada kejanggalan, sang pilot memutuskan untuk memotret sang kuncen yang tengah duduk di antara makam di atas puncak.
Cerita mistis lain yang masih berkaitan dengan makam adalah dialami para awak media yang meliput. Menurut cerita Gunawan, jurnalis televisi, dia mendapatkan cerita bahwa ada teman wartawan dari media televisi lain yang meliput di sekitar areal makam. Namun setelah beberapa kali merekam, hasilnya ngeblur.
"Katanya sudah habis delapan kaset, tapi hasilnya blur semua. Mungkin saat itu langsung ambil gambar tidak permisi-permisi dulu. Alhamdulillah pas saya ambil gambar hasilnya normal. Sebelum merekam saya assalamualaikum dan pamit mau meliput dulu," cerita Gunawan.
Ada juga kejadian mistis yang terjadi di siang bolong di helipad Pasir Pogor. Kejadiannya melibatkan warga yang menonton proses evakuasi. Seperti diceritakan Empang, salah seorang warga Pasir Pogor.
Pada Kamis (17/5) siang, sekitar pukul 11:00 WIB, ada ayah dan anaknya berfoto dengan background pesawat puma dengan menggunakan ponsel. Namun setelah dilihat hasilnya, ternyata foto anaknya berubah dengan foto sesosok menyerupai pocong, setengah badan.
Potongan cerita mistis lain yang dialami sejumlah anggota PMI, tepatnya para sopir mobil ambulan PMI, terjadi di area posko Balai Embrio Ternak Cipelang, Jumat (11/5) malam atau tiga hari pascakejadian jatuhnya SSJ.
Di tengah malam, mobil ambulan PMI yang jumlahnya mencapai 15 unit berguncang. Cerita salah seorang anggota PMI yang namanya enggan disebutkan, saat itu mobil berguncang seperti ada yang mengoyang-goyang dengan keras. Alhasil karena ketakutan, seluruh mobil ambulan yang terparkir di areal itu turun keluar dari areal lokasi.
