Sakjane sopo seh Anggoro – Anggodo kuwi?
JAKARTA – Anggodo Widjojo alias Ang Tju Nek dan Anggoro Widjojo alias Ang Tju Hong menjadi tokoh sentral dalam perseteruan KPK dan Polri. Siapa sesungguhnya Anggodo dan Anggoro ini. Berikut penelusurannya,
Yah kedua pengusaha ini memang sangat dikenal di era 80-an jaman SDSB dan menjadi sukses di Surabaya. Keduanya berawal dari kampung Kali Mati ,Surabaya (Kembang Jepun namanya saat ini ) .
Anggodo disegani lawan dan kawan, bahkan kerap dimasa mudanya suka berkelahi.”Gak ada yang berani dulu di kali mati sama Anggodo, dia suka mai pukul,”jelas kawan semasa muda Anggodo yang tak berkenan disebut namanya.
Sedangkan Anggoro sang kakak lebih intelek dan kalem serta wawasan dan naluri bisnis yang unggul. Anggoro yang memang terlibat kesulitan keuangan ini adalah bos PT Masaro Radiokom yang kerap menjadi rekanan Departemen dalam sistem komunikasi terpada hingga menggandeng Motorola perusahaan radio komunikasi asal Amerika.
Kedua anak ini adalah putra dari Ang Gai Hwa di era 70an merajai Kalimati dalam bisnis Dinamo. Ang Gai Hwa dikenal supel dan mempunyai pergaulan luas dari berbagai kalangan.Selain meneruskan bisnis sang ayah, Anggodo dan Anggoro terus mengembangkan bisnis keluarga hingga menjadi besar di Surabaya.
Di era 80 jaman keemasan kupon togel Porkas dan SDSB, keduanya adalah agen Jawa Timur. Kedekatan dengan Roby Sumampauw membuat keduanya disegani. Jalinan para petinggi bos SDSB yang dekat dengann banyak pejabat pusat di Jakarta itu, Anggodo dan Anggoro mendapat keuntungan melimpah hingga mampu membeli kompleks perkantoran dan hiburan Studio East di kawasan Simpang Dukuh.
Tutupnya SDSB tak membuat kedua penguasaha ini patah semangat, dengan kucing-kucingan mereka masih mempunyai judi bola dan mickey mouse. Awal 2000-an, bisnis dua bersaudara itu memasuki jaman hitech, mereka membangun PT Masaro Radiokom, dan lebih mengejutkan lagi mereka sukses menjadi agen pemasaran Motorola, perusahaan telekomunikasi papan atas asal Amerika. Sejak itu mereka kembali sering muncul di pergaulan pengusaha Surabaya, meski sebatas acara gathering dan entertainment.
Bahkan Anggodo tercatat memilik usaha parket (lantai kayu) dikawasan Driyorejo, Gresik, Jawa Timur dan rumah kuno di jalan Karet, Jawa Timur yang menjadi simbol kejayaan Anggodo-Anggoro.
Selain menguasai jaringan komunikasi, dan merancang sistem komunikasi radio terpadu (SKRT) Departemen. Bahkan para pelobi unggulpun dekat dengan Anggodo, seperti Ary Muladi dan Edi Sumarsono.”Banyak yang telah dikerjakan bersama selama 20 tahun lebih dengan Ary Muladi,”jelas Anggodo seperti dikutip tvone saat wawancara.
Sumber klikp21 sendiri saat mengikuti pemeriksaan KPK di Palembang mengenai kasus Tanjung siapi-api juga mengarah ke Anggoro Widjojo yang mempunyai kedekatan dengan petinggi di Sumatera Selatan dan mantan anggota DPR Komisi VI Yusuf Emir Faisal.
Yusuf diminta oleh Anggoro Widjaja untuk menyetujui usulan rancangan anggaran itu dan dijanjikan sejumlah uang. PT Masaro Radiokom adalah calon rekanan Dephut dalam proyek revitalisasi SKRT.Uang dari Anggoro yang disampaikan oleh David Angka Wijaya melalui Tri Budi Utami di ruang sekretariat Komisi IV DPR. Uang tersebut kemudian dibagikan kepada sejumlah anggota Komisi IV, yaitu Suswono (Rp50 juta), Muchtaruddin (Rp50 juta), dan Muswir (Rp5 juta).
Pada November 2007, Yusuf kembali menerima sejumlah uang dari Anggoro Wijoyo. Uang itu juga dibagikan kepada sejumlah anggota Komisi IV, yaitu Fachri Andi Laluasa (30 ribu dolar Singapura), Azwar Chesputra (5 ribu dolar Singapura), Hilman Indra (140 ribu dolar Singapura), Muchtaruddin (40 ribu dolar Singapura), dan Sujud Sirajuddin (Rp20 juta).
Link yang lain
- Transkrip Rekaman “Dia yang istilahnya nggak boleh disebut” KPK Inilah transkrip rekaman yang diperdengarkan dalam sidang MK selasa kemarin....
