Teror Telepon

Post ini ditulis dalam kategori [ Umum ]

Pernah dapat teror telepon?. Itu, yang orang nelpon, tapi nomernya disembunyikan?. Kalau pernah, gimana rasaya?

Saya mau sedikit sharing tentang teror telepon dan perasaan saya tentang hal tersebut. Padahal saya khan laki-laki, yang mana seharusnya lebih cuek terhadap teror-teror semacam ini, namun nyatanya tidak juga.

Terganggu, mungkin itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kekesalan hati. Kata pak ustad kemarin, muslim yang cerdas tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna, apalagi di bulan puasa. Jadi sumpah serapah sebenarnya kurang bisa mewakili, walaupun mampu meredakan rasa di dada. Hahaha.

Coba bayangkan!. Begitu diterima, beberapa detik kemudian dimatikan. Mungkin bagi peneror kehilangan pulsa yang tidak seberapa sih gak masalah, tapi coba pandang dari sudut yang menerima teror, betapa tidak nyamannya menerima telepon semacam itu. Bisa bisa, seluruh pagi yang seharusnya indah untuk dijalani, menjadi tersia-sia gara gar suasana hati yang tersakiti. Ceilee..

Karena kita lagi bicara teror, maka tidak salah dong kalau sekalian saja menghubungkan Teror dengan Terorisme, apalagi yang mengatasnamakan Islam. Wah, wah. apa pula itu.

Dari gambaran diatas, tidak perlu sampai membuat kehebohan membom sana sini untuk mengganggu orang lain. Hasilnya sama saja. Terganggu!. Kita mulai dari yang paling besar dulu.

Teror ledakan bom. Apa yang mereka pikirkan?. Heran juga, darimana pemikiran itu berasal. Seingat saya, tidak pernah ada sejarah Nabi melakukan teror. Bahkan, ketika menaklukkan Makkah, maka Nabi menyebarkan kedamaian. “Siapa yang masuk Rumahku, Aman” demikian kata Nabi. Gereja dan bangunan-bangunan tidak pernah dirobohkan. Bahkan, ketika islam masih tertindas, yaitu sebelum Hijrah, Nabi tidak pernah menyuruh melakukan teror dengan membunuhi kuda, misalnya. (saya ingat gambaran ustad saya waktu ada protes terhadap kepemimpinan Utsman bin Affan, sang ustad menggambarkan protes itu dengan kuda-kuda disembelih, ban-ban dibakar – hah.. ada ban jaman itu?)..

Bunuh diri, jelas haram hukumnya. Bagaimana bisa pembom bunuh diri dianggap syahid, padahal apa yang mereka lakukan tidak lebih dari sebuah bentuk teror yang merugikan orang lain. Lihat dari kacamata korban bom, tidak semuanya orang asing. Bagaimana dengan pekerjaan mereka?. Apakah seharusnya tidak lebih mulia orang yang memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain, dibandingkan dengan orang yang menghilangkan hajat hidup orang banyak?

Ditinjau dari kacamata keluarga sang pengebom, bagaimana mereka hanya menyerahkan kehidupan keluarganya pada Tuhan, padahal tuhan sudah berfirman dalam surat Nisa’. “Dan takutlah untuk  meninggalkan anak2mu dalam keadaan lemah yang membuat kamu khawatir“. Bahkan dalam pelariannya, mereka tidak peduli sama sekali dengan anaknya, dengan pendidikan anaknya?. Bagaimana orang2 ini bisa ditiru?

Keahlian membom itu hebat?. Semua hal yang dilakukan secara ahli itu hebat, hal yang memang betul. Tetapi apa yang hebat dari seseorang dengan kecenderungan merusak?. Saya pernah berbicara dengan tukang kunci, dimana waktu itu saya berkata begini: “Pak, kok nggak bisa kayak pencuri yang di Filem2 itu, beberapa detik aja udah bisa nyalain mobil. Sementara bapak perlu berjam-jam”. Jawabnya?. “Ah, kalau orientasinya hanya untuk merusak sih gampang mas. Putus kabel yang sini, terus kontakkan. Tapi saya kan membenarkan dengan tidak merusaknya, makanya lama”.

Bayangkan pula dengan seorang tukang batu yang menyusun bata satu demi satu, merekatkannya dengan semen. Lalu datang seseorang dengan keahlian menendang, dan dengan memakai sepatu bot, dia tendang itu susunan bata yang disusun dengan peluh tukang batu. Mana yang hebat?

Ini berlaku universal untuk semua hal. Tidak ada kata hebat untuk kemampuan merusak. Yang paling hebat dan mulia adalah mereka yang membangun. Biarpun mungkin nilainya kecil, tetapi mereka meningkatkan nilai sesuatu, bukan menurunkannya.  Jadi jangan sombong dulu, wahai pembuat virus, cracker. Merusak itu selalu lebih mudah daripada membangun.

Kalau ada yang beralasan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah mengajukan diri untuk menjadi martyr waktu akan Hijrah dengan menyuruh Ali tidur di peraduan Nabi, menurut saya, sebenarnya Nabi sudah mempertimbangkan hal itu dengan 2 alasan. Pertama masyarakat arab waktu itu tidak punya kebudayaan membunuh orang dari belakang. Dan yang kedua Ali pada saat itu masih remaja, sehingga tidak akan dibunuh. Jadi, dengan kedua pertimbangan itu, nyawa Ali sebenarnya aman, seaman kokpit pembalap F1. Kalau pengebom, mana tahaan, badan aja hilang entah kemana..

Teror spam,  ya sama aja, merugikan orang, soalnya harus selalu membersihkan spam. Buang-buang waktu dan tidak produktif.

Teror Telepon, apalagi kalau teror bomlewat telepon. Biarpun pekerjaan orang iseng, ini patutlah mereka dihadiahi penjara barang 3 atau 6 bulan.

Teror Ucapan, lumayan berbahaya sih. Pada saat saya membuat tulisan ini, ada seorang pasangan baru yang ingin transmigrasi. Alasannya?. Karenan dia tidak kuat mendengar omongan dari tetangga. Nah, benar2 bahaya kan teror tuh?

Jadi, bolehlah dikatakan bahwa peneror, apapun bentuknya, dapat dikategorikan sebagai Teroris!. Dan Teroris adalah kejahatan kemanusiaan yang sangat nyata!.

Belum ada posting yang berhubungan.


Istilah Pencarian:

Klik untuk melihat list
Anda dapat berlangganan semua komentar dalam posting ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat meninggalkan pesan, atau trackback dari situsmu sendiri.

1 komentar pada “Teror Telepon”

  • 9 September, 2009, 4:23

    …. :)

Tinggalkan komentar disini