Invent

PKS (memang) Telah Berubah


Saya sejak dari dulu pendukung setia PKS, walaupun tanpa Kartu Tanda PKS atau apapun juga namanya, tidak juga ikut-ikutan kampanye, tapi yang jelas sejak saya 1999, suara saya memang untuk PKS (Kecuali tentunya pada pileg tahun ini, karena saya dipaksa Golput). Bahkan kami (saya dan teman) termasuk salah satu dari (mungkin) ratusan ribu orang yang mendaftarkan diri sebagai simpatisan PKS pada tahun 1999 (waktu itu namanya masih PK, Partai Keadilan).

PKS memang identik dengan kaum muda, yang tidak banyak cakap, tetapi langsung bekerja. Itu dulu….

Saat lagi ramai-ramainya 4 partai akan mengundurkan diri dari koalisi SBY, saya tentu saja sangat mendukung langkah ini. Apalagi ditengarai bahwa pasangan wapres yang diusung SBY adalah Neolib. Kata-kata ini dipopulerkan oleh PKS sendiri, dan ditegaskan oleh Amin Rais (artinya saya tidak sedang menjelek-jelekkan seseorang lho..). Silang pendapat ini ramai diperbincangkan saat itu, sampai saat menjelang pengukuhan SBY sebagai Capres di Bandung. Hasilnya, PKS akan tetap mendukung SBY., sementara di kubu PAN terjadi perpecahan dimana secara keorganisasian PAN mendukung SBY, tetapi PAN yang dimotori oleh Amien Rais mendukung JK.

Itu adalah penggalan kisah masa silam. Sekarang PKS tidak lagi menonjol di TV, sehingga saya tidak tahu apa yang dilakukan PKS sekarang. Mungkin konsolidasi untuk mendukung SBY.

Namun sebenarnya saat itu merupakan titik balik saya dalam mengarahkan dukungan terhadap partai ini. Tentunya, perubahan fundamental yang dilakukan PKS sangat mengecewakan saya. Saya sangat setuju PKS keluar dari koalisi, mengingat statement mereka yang cukup tajam pada saat itu. Tetapi, dengan dengan alasan adanya “deal” politik, semua bisa diselesaikan. Saya lebih salut dengan Amin Rais yang mungkin mengkhianati partainya, tetapi tidak mau mengkhianati hati nurani.

Kejadian tersebut membuat saya menganalisis ulang pilihan partai saya. Apakah selama ini saya salah memilih, atau apakah para petinggi PKS sudah terjangkiti penyakit  “kekuasaan”?. Tampaknya kemungkinan kedua lebih meyakinkan. Dari berbagai komentar di beberapa posting yang saya pelajari, kebanyakan  yakin bahwa pilihan politik yang diambil oleh para petinggi PKS lebih didasarkan pada faktor “kursi” belaka.

Ada analisis yang, saya tidak tahu nama aslinya siapa, karena penulis hanya menyebut inisialnya RL. Tulisan ini menjadi pro dan kontra, namun mari kita mengambil pelajaran dari mana saja. Saya justru melihat bahwa tulisan ini mengajak PKS maupun kader-kadernya untuk kembali kepada tujuan awal partai, yang berorientasi kepada kesejahteraan rakyat, bukan rebutan jatah menteri.

Politik aliran telah mati. Keyakinan itu sempat diragukan oleh beberapa teoritisi-teoritisi politik kita. Tetapi fenomena yang terjadi pada pemilihan Presiden sekarang ini membuktikan bahwa hal itu benar adanya. Salah satu pilar politik aliran yaitu keyakinan agama telah rubuh di Indonesia. Ini tentu saja menggembirakan, bukan hanya karena ini menggambarkan betapa fanatisme beragama telah mulai luntur, tetapi juga menunjukkan kemajuan pola pikir masyarakat kita. Orang-orang tidak lagi mau terjebak dalam simbol-simbol keagamaan yang biasanya begitu mudah memancing opini publik. Mereka lebih rasional dalam memilih. Matinya politik aliran ke arah pilihan-pilihan rasional tentu saja dipicu oleh pragmatisme partai-partai politik yang tidak sakleg memegang ideologi partai demi kebutuhan politik mereka selama lima tahun ke depan. Mungkin pragmatisme politik ini bisa diperdebatkan, tetapi cara pandang partai politik yang cenderung semakin rasional adalah sebuah kemajuan. Maka tema-tema seperti syariat Islam, piagam Jakarta, Perda-perda bermasalah yang melaksanakan hukum Arab di tanah Indonesia tinggal menunggu waktu saja untuk dilupakan oleh partai politik  Islam dan para pengikut mereka.

Saya, adalah orang yang dari dulu setuju dengan perlunya pemisahan negara dan agama. Saya menjunjung tinggi kebebasan berpikir seluas-luasnya. Termasuk tafsir ulang terhadap agama-agama yang diimpor ke Indonesia. Saya juga adalah orang yang setuju bahwa jilbab misalnya, adalah budaya Arab yang tidak memiliki konteks yang tepat untuk diterapkan di Indonesia. Makanya saya sangat bergembira pada saat “jualan’ jilbab istri JK Wiranto mendapat tanggapan sepi di tengah masyarakat kita. Lebih gembira lagi mendapati ini juga tidak menggoyahkan dukungan parpol Islam yang dulu sensitif sekali dengan masalah perempuan. Tampaknya bagi kader-kader partai Islam pendukung SBY -Boediono terutama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hitung-hitungan rasional politik mereka tidak boleh rusak oleh masalah ideologi. Lunturnya ideologi politik PKS yang dulu sangat rentan oleh politik tentunya sejalan dengan dinamika politik yang membutuhkan inklusivisme keyakinan. Pada titik ini, saya yang dulu “memusuhi” segala sesuatu yang berbau PKS, (walaupun banyak berteman dengan beberapa petinggi partai) harus memberikan salut dan tabik kepada PKS. Kader-kader progresif modern yang sering menjadi sparing partner diskusi dengan saya ternyata mampu meng-Indonesia-kan partai ini. Hitung-hitungan posisi strategis dalam kabinet, perhitungan politik yang matang dan menjaga hasrat untuk menjadi partai berkuasa jauh lebih penting dibandingkan hanya dan hanya masalah jilbab belaka.

Arah pragmatisme positif politik PKS ini bukannya tidak saya duga dari awal. Perkenalan dan perkawanan saya dengan beberapa orang petinggi partai membuka mata, bahwa partai yang mengusung dakwah ini perlahan akan berubah. Satu hal yang dulu saya dan beberapa kawan lupa tentang PKS yang kami anggap sebagai kekuatan setan dari padang pasir ini adalah bahwa orang-orang yang mengawaki partai ini juga manusia biasa. Kita bisa saja takut dengan fanatisme bersenjata Sayyid Quthb dan Hassan Al Banna lewat gerakan Ikhwanul Muslimin yang coba diterjemahkan di Indonesia oleh beberapa orang dalam jalinan gerakan dakwah. Tetapi mereka tetaplah manusia biasa yang lebih mencintai kehidupan dari pada kematian. Mereka tetaplah insan-insan Indonesia yang cerdiknya bukan main. Mereka tahu bagaimana cara masuk dalam chaos politik aliran. Mereka membelah umat untuk mendapatkan simpati. Mereka berhasil membius mahasiswa-mahasiswa dari kampus sekuler untuk menjadi kader militan. Mereka berhasil menciptakan sistem sel sehingga para kader begitu patuh dan taat pada setiap ketentuan partai. Maka dulu saya pernah berkelakar pada seorang kawan, tampaknya PKS berhasil bikin tentara yang disiplin dan taatnya melebihi hierarki TNI. Walaupun telah menjadi massa, kader inti PKS tetap bisa mengontrol diri. Tetap saja semua kendali partai di tangan satu orang yaitu Al Ustadz Hilmi Aminuddin sedangkan gerak partai dikomandani orang-orang kepercayaannya Anis Matta, Fakhri Hamzah dan “Uda” Irel. Lebih dari dua puluh tahun membesarkan jaringan dakwah ini, Hilmi telah menjadi nabi di PKS, ucapannya adalah sabda. Kepemimpinan partai hanyalah formalitas belaka. Itulah kekuatan kasat mata PKS sehingga apapun pilihan politik mereka (bahkan dengan tidak mengindahkan dua orang perempuan berjilbab hehehehe) pasti akan diikuti oleh para kader tanpa perlu bertanya, tanpa perlu banyak berteori.

PKS adalah Indonesia dan bukan Islam. Sebab Islam hanyalah jargon, sedangkan jilbab, celana bahan dan penampilan khas lainnya adalah kreasi pemikiran jenius untuk memantapkan identifikasi diri kader yang militan.  Saya bertemu dengan kawan-kawan petinggi PKS bukan di masjid, warung lesehan sederhana atau di kantor DPP mereka yang tampak seperti Ruko Sederhana di Mampang. Saya bertemu dengan beberapa di antara mereka di salah satu resto di Grand Indonesia, Hotel Nikko, salah satu kamar di hotel Shangrilla dan lobby Hotel Sheraton yang jadi favorit dari salah seorang yang bertanggung jawab terhadap pendanaan politik partai. Tidak seperti kebanyakan kader mereka yang teguh (terjebak) dalam padanan pakaian ala kadarnya, orang-orang ini tahu memadankan diri. Mereka mengenakan pakaian yang beberapa di antaranya jauh lebih mahal dibanding yang dikenakan oleh pengusaha kelas atas ki
ta. Mereka tidak membawa Al Quran sebagaimana gambaran ketakutan saya, tetapi kuitansi dan berkas politik yang harus ditandatangi. Orang-orang ini yang menjadi mesin utama partai telah lepas dari segala sesuatu yang berbau simbol keagamaan. Mereka menyukai yang enak-enak, mereka tidak makan berjamaah. Mereka punya hasrat untuk berkuasa yang tidak lebih kecil dibanding partai lain. Mereka tahu bagaimana mengelola uang negara sehingga pos anggaran partai bisa diamankan. Mereka menyukai perempuan, cara mudahnya lewat poligami. Ini tentu lebih elegan dibandingkan punya perempuan simpanan. Walaupun pada hakikatnya ini sama saja. Mereka suka mobil bermerk, harga tidak pernah jadi masalah bagi mereka. Tentu penampilan ala ustad kampung dengan motor butut tidak akan cukup membuat mereka terhormat pada saat bertemu dengan pengusaha, politisi lain atau partner kerja.  Mereka tidak canggung dalam diskusi, penuh percaya sebab didukung dengan penampilan sederhana. Inilah modernisme ala petinggi PKS yang membuat saya yakin bahwa mereka bisa berubah. Dan hal itu sekarang terbukti.

Banyak yang mempertanyakan komitmen PKS terhadap identitas Islam mereka, saya tidak hendak membantu kawan-kawan PKS , tetapi seandainya pertanyaan ini diajukan kepada saya, maka saya akan menjawab, inilah realitas politik modern Bung. Jalan panjang yang telah dibuka oleh PKS untuk menciptakan kader yang patuh dan mudah dibikin mengerti terhadap tindak tanduk petingginya adalah sebuah keberhasilan partai kader. Makanya saya sangat yakin, bahkan seandainya nanti PKS menanggalkan identitas ke Islaman sebagaimana pilihan rasional mereka saat ini mendukung dua orang tokoh sekuler modernis SBY-Boediono, para kader tetap tanpa perlu bertanya akan mengikuti para pimpinan mereka. Sebab, satu hal yang tidak disadari oleh partai konservatif lain adalah, keberhasilan PKS membius para kadernya untuk mensejajarkan kepatuhan pada Yang Kuasa dengan kepatuhan kepada Kader Inti. Itulah yang membuat saya tidak bisa bohong, perlahan saya jatuh cinta dengan PKS, karena mereka mampu menerjemahkan konsep Ketuhanan ala Syech Siti Jenar menjadi kekuatan politik modern. Pada titik ini saya berani memprediksi, pada Pemilu 2014, kawan-kawan saya, petinggi PKS yang progresif akan mampu mengubah haluan partai ini menjadi partai berbasis Nasionalis terbuka dan bukan lagi partai Islam belaka. Percaya pada saya, tidak akan pernah ada gejolak dalam partai, sebab mereka punya konsep jenius menciptakan ilusi indah bagi kader militan sebagaimana saya paparkan di atas.

Jadi jilbab bukanlah masalah ideologis. Jilbab hanyalah masalah kecil dibanding realitas politik Indonesia. Bagi PKS, jilbab dulunya hanyalah kreasi politik jenius untuk menciptakan identifikasi diri spesial bagi kader-kadernya. Sehingga mereka memiliki kebanggaan diri sebagai manusia pilihan Tuhan yang akan melakukan apa saja demi orang-orang yang telah menunjukkan jalan itu pada mereka. Hari ini, Al Ustadz Hilmi Aminuddin mengajarkan kepada semua praktisi dan teoritisi politik Indonesia bahwa kesabaran membina kader dengan cara-cara yang tidak biasa, di luar mainstream, telah membuahkan hasil. Maka bersyukur lah kita, sekian tahun diberikan pendidikan politik yang penuh liku oleh PKS.

Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi partai konservatif untuk tidak lagi bermain dalam ranah politik aliran. Jilbab bukan lagi sesuatu yang penting bahkan bagi partai sekaliber PKS. Itu sebabnya Jilbab tidak akan pernah (lagi) menciptakan sentimen politik di Indonesia. Inilah kegembiraan terbesar saya sebagai putera Indonesia yang tidak ingin rusak oleh adat padang pasir. Karena jilbab ternyata tidak menarik massa muslim lagi, saya ingin menantang istri JK-Wiranto, bagaimana kalau jilbab mereka lepaskan; akankah suara akan berubah?

(http://public.kompasiana.com/2009/06/23/lepasnya-jilbab-istri-jk-wiranto-belajar-dari-modernisme-politik-pks/)

Karena itu, wahai simpatisan PKS. Jangan turut hancur akibat pilihan politik yang salah dari segelintir orang. Pilih yang terbaik untuk bangsa ini.

Istilah Pencarian:

Klik untuk melihat isi list

One Response to PKS (memang) Telah Berubah

  1. By wulan, 23 July 2009 at 7:23 am

    percumaaaaaaa nasehatin kader2 pks

    dah buta matanya dah fanatik

    aku malu sebagai temene mereka

    apa sih yg mereka perjuangkan, dengan memakai jilbab gede memperjuangkan pks, mnding memperjuangkan kalimat laaillahaillallaah agar terus tegak di atas bumi allah

Archives

Kategori

Who's Online

22 visitors online now
15 guests, 7 bots, 0 members
Map of Visitors

Masukkan email anda untuk mendapatkan update website ini secara otomatis di email anda. Bergabunglah bersama 1862 Subscriber yang lain

Visit also our social profiles:

Scroll to top