Inilah Pemikiran Tim Kampanye SBY

Post ini ditulis dalam kategori [ Umum ]

KabarIndonesia – Belum juga reda dengan ungkapan rasis dari Tim SBY yang menyinggung suku Arab, sudah disusul pula dengan ungkapan bernuansa rasis lainnya, dimana kali ini mereka melecehkan suku Non Jawa atau suku Bugis.
Tim kampanye Nasional SBY-Boediono, Andi Mallarangeng mengaku di depan ribuan peserta kampanye dialogis cawapres Boediono di Makassar, Rabu (1/7), bahwa mengapa dirinya tidak mendukung salah satu calon presiden (capres) yang orang Bugis (Jusuf Kalla), padahal dia juga berasal dari Sulawesi Selatan.

Dalam orasinya saat mendampingi kampanye cawapres Boediono tersebut, Andi Mallarangeng menegaskan, saat ini belum waktunya bagi orang Bugis (non Jawa) menjadi pemimpin nasional. Ikut hadir kedua saudara Andi, yakni Rizal Malarangeng dan Choel Malarangeng di panggung kampanye tersebut .

Namun, saat jeda SBY di Hotel Imperial Aryaduta, Makassar, Andi Mallarangeng menyebut Jusuf Kalla adalah orang tuanya. Tapi ketika diperhadapkan pada pilihan politik, maka dirinya tetap bebas memilih dan tidak harus Jusuf Kalla. “Kami tidak pernah menyerang karena JK itu orang tua kami, JK juga adalah sesepuh orang Sulsel,” tegasnya.

Massa yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Sulsel Anti-Rasis berunjukrasa di Monumen Mandala Makassar dan meminta Andi meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap penghinaan kepada masyarakat Sulsel. “Pernyataan itu sangat menghina serta melukai hati suku-suku bangsa di Indonesia. Ada kesan dari pernyataan Andi bahwa hanya suku tertentu saja yang bisa jadi presiden. Padahal semua memiliki kesempatan yang sama,” kata Subhan.

Menurut Wiranto siapapun bisa menjadi presiden asal merupakan warga negara Indonesia dan tidak melanggar undang-undang. “Isu orang Bugis tidak bisa menjadi presiden itu salah besar. Sangat picik berfikir satu suku saja yang bisa menjadi presiden,” ujar Wiranto. Sedang JK sendiri berpendapat: “Jangan ada rasis di negeri ini. Ini berbahaya, ini negara yang merdeka. Jangan sampai ada rasis di negeri indonesia,” ujar JK

Ungkapan rasis dari pihak Tim SBY ini membuat rakyat maupun mahasiswa Makasar Sulsel menjadi gusar, mereka melakukan demo Anti SBY. Puluhan mahasiswa Universitas 45 yang tergabung dalam Aliansi 45 ini berorasi dan membakar ban bekas di depan kampusnya sehingga memacetkan arus kendaraan selama satu jam. “SBY-Boediono adalah antek-antek kapitalis yang dididik Amerika untuk meneruskan ekonomi liberal di Sulsel,” teriak salah satu orator.

Alifian menjadi ujung tombak SBY di istana dan tim partai. Kakak Alifian, Rizal, menjadi garda terdepan dalam menangkis serangan ke SBY. Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengakui satu gerbong dengan Rizal di tim sangkur SBY-Boediono. Tim ini bertugas menyapu bersih segala serangan ke kubu SBY-Boediono. (sumber1)

 

INILAH.COM, Jakarta – Statement Ketua DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengenai belum saatnya orang Makassar menjadi Presiden, disesalkan banyak pihak. Karena tidak hanya bermuatan SARA, tapi juga sungguh-sungguh telah menyakiti dan menghina.

“Selain itu merendahkan rasa kebangsaan dan merusak sendi-sendi ke-Indonesiaan. Apa ukuran yang digunakan untuk menyatakan seseorang dari sesuatu suku sudah saatnya jadi Presiden atau belum?” sebut juru bicara tim kampanye nasional JK-Wiranto, Lukman Hakiem kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (3/7).

Mantan staf khusus Wapres Hamzah Haz ini mengatakan, tidak ada satu orang pun yang berhak mengatakan ada anak bangsa dari sesuatu suku apapun di Indonesia yang belum saatnya menjadi Presiden. Karena itu statement tim kampanye nasional SBY-Boediono itu sekaligus mengkhianati cita-cita para pendiri Indonesia.

“Yang dengan sadar telah mematrikan realitas kemajemukan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Setiap anak bangsa dari suku apa pun, jelas Lukman, memiliki hak dan tanggung jawab yang sama untuk memajukan Indonesia. Seperti para pendiri Republik, yang bangga akan Indonesia yang majemuk.

“Sangat menyedihkan jika sekadar untuk memenangkan capresnya, Andi Mallarangeng kehilangan akal sehatnya,” tutur Lukman.

Ia menjelaskan, siapapun boleh menang dan boleh kalah dalam pilpres nanti. Namun, disarankan dia, janganlah memaksakan kemenangan dengan menabrak sendi-sendi ke-Indonesiaan. Indonesia tidak boleh dipertaruhkan hanya untuk kemenangan pasangan capres-cawapres, walaupun pasangan itu bernama SBY-Boediono.

“Sangat mengerikan jika statement Andi mencerminkan pikiran yang hidup di kalangan SBY-Boediono,” tandas Lukman. [jib] (sumber)

 

LSI: Denny & Mallarangeng Turunkan SBY

Raden Trimutia Hatta

INILAH.COM, Jakarta – Iklan satu putaran memang ditampik SBY sebagai iklan miliknya. Namun, karena iklan itu sudah terlanjur melekat dengan diri SBY, maka berdasarkan data Lembaga Survei Indonesia (LSI) elektabilitas SBY mengalami penurunan.

“Iklan satu putaran yang digerakkan Denny JA telah membangunkan macan tidur karena mendorong rekonsolidasi kekuatan lawan-lawan SBY. Buktinya tren elektabiltas SBY malah turun pasca Denny dan kawan-kawannya mengampanyekan gerakan satu putaran itu,” ujar peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi kepadaINILAH.COM, Jakarta, Jumat (3/7).

Dari data survei LSI terakhir menunjukkan, dalam tempo 20 hari, SBY-Boediono mengalami penurunan sebesar 3%, dari 7o% ke 67%. Mega-Prabowo cenderung stagnan dikisaran 16%, sedangkan JK naik dari 7% menjadi 9%.

Burhan mengatakan, selain karena iklan satu putaran, blunder politik tim kampanye SBY-Boediono yang dikendalikan oleh Mallarangeng bersaudara juga akan berpotensi besar kembali menurunkan elektabilitas SBY. Sebab, migrasi pemilih rasional SBY ke JK karena adanya konsolidasi pendukung primordial JK di Sulsel.

“Sentimen-sentimen Mallarengeng potensial membuat terjadinya konsolidasi kekuatan JK yang berbasis kesukuan. Blunder yang dilakukan Mallarangeng soal orang Bugis mempunyai peluang menurunkan elektabilitas SBY. Itu membuat citra SBY sedikit tercotreng terutama di konteks Sulawesi Selatan,” ungkapnya.

Belakangan ini, sambungnya, suara JK hampir melampaui SBY di Sulsel dan dengan adanya kontroversi Mallarengeng bukan tidak mungkin suara JK bisa melampaui SBY. “Catatan untuk tim SBY, agar tidak terlalu mengeluarkan kontroversi yang tidak perlu menjelang 8 Juli ini, lebih baik bermain aman dari pada memancing blunder,” pungkasnya. [mut] (sumber)

 

Doktor bidang politik Andi Alifian Mallarangeng tetap tak mau meminta maaf meski desakan pada dirinya kian gencar

Hidayatullah.com-Dalam acara dialog interaktif dengan stasiun Metro TV, Kamis malam, juru bicara kepresidenan yang juga salah satu tim kampanye SBY-Boediono, Andi Alifian Mallarangeng menolak minta maaf menyangkut pernyataannya yang kini dianggap melukai perasaan warga Bugis.

Sebagaimana diketahui, Andi Alifian Mallarangeng dinilai memberikan pernyataan kontroversial saat kampanye nasional calon presiden (Capres) SBY-Boediono, di GOR Andi Mattalatta, Rabu (1/7). Pernyataan bernada rasis itu, kini menjadi bahan perbincangan masyarakat Sulawesi Selatan.

Dalam kampanye itu, Andi Alifian Mallarangeng sempat mengatakan “belum saatnya putra Sulsel Presiden”.  Selain itu, dalam orasinya, Andi juga mengatakan,  ‘apakah orang Sulsel bisa menjadi Presiden RI. Bisa dan banyak orang Sulsel yang bisa menjadi
pemimpin bangsa, tapi ada waktunya. Sekarang ini, untuk 2009-2014 yang terbaik adalah SBY-Boediono.’ 

Namun dalam dialog dengan Ketua Forum Rektor Indonesia Simpul Sulawesi Selatan (FRIS-Sulsel) Prof Dr dr Idrus A Paturusi, di Makassar, Kamis (2/7) malam, Andi  bahkan mempertanyakan mengapa Forum Rektor justru ikut-ikut berpolitik praktis.
“Kenapa masuk ke politik praktis seperti ini, ” ujar Andi mempertanyakan kiprah Forum Rektor Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, Andi bahkan tetap pada pendiriannya bahwa pernyataannya tidaklah bersalah sama sekali. “Ternyata pernyataan saya tidak ada yang salah, ” ujar Andi dalam dialog interaktif malam itu.

Sementara itu, menanggapi masalah ini, budayawan Sulsel, Ishak Ngeljaratan, secara terpisah menilai, pernyataan Andi bahwa orang Sulsel belum waktunya menjadi presiden, sangat “mengerikan” dan itu merampas hak orang lain untuk menggunakan haknya sesuai UU tersebut.

“Biarlah setiap warga Indonesia yang majemuk ini menggunakan haknya, bukan dihambat hanya karena ingin mempertahankan pemimpin bangsa yang sekarang ini,” ungkapnya.

Meski banyak desakan agar meminta maaf, Andi Mallarangeng tetap tak bergeming. “Yang saya katakan dalam kampanye di Makassar adalah apakah orang Sulsel bisa menjadi presiden. Bisa dan banyak orang Sulsel yang bisa menjadi pemimpin bangsa, tapi ada waktunya. Sekarang ini, untuk 2009-2014 yang terbaik adalah SBY-Boediono,” kata Andi dalam pesan singkatnya dikutip Koran Suara Karya. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Link yang lain

  1. Inilah Calon Presiden Kita untuk 5 tahun mendatang Setelah beberapa bulan perhatian kita dialihkan oleh kasus antasari, maka...
  2. Sentilan Butet Dalam Deklarasi Kampanye Damai 2009, memerahkan telinga beberapa pihak Jakarta – Deklarasi Pemilu Damai resmi digelar di Hotel Bidakara,...
  3. Ada apa dengan Nomor Urut Capres? Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pengundian nomor urut pasangan capres...
  4. Yang unik dalam kampanye 2009   Sistem penetapan anggota legislatif dengan menggunakan suara terbanyak menyebabkan...
  5. Inilah Potret Pendidikan Kita Sesungguhnya Setiap kali masa-masa Ujian Nasional, penerimaan siswa baru maupun mahasiswa...
  6. Iklan Kampanye Partai Politik   Saya mencoba mengumpulkan beberapa iklan partai politik peserta pemilu...
  7. Survey LRI: Dukungan Terhadap SBY Turun Drastis RI: SBY 33 %, JK 29 % dan Mega 20...

Istilah Pencarian:

Klik untuk melihat list
Anda dapat berlangganan semua komentar dalam posting ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat meninggalkan pesan, atau trackback dari situsmu sendiri.

3 komentar pada “Inilah Pemikiran Tim Kampanye SBY”

  • 3 July, 2009, 15:43

    mengenai kontroversi orasi andi mallarangeng di makasar, saya rasa jika kita mencermati isi orasi itu sendiri, tidak ada maksud atau tujuan untuk merendahkan etnis non jawa (dalam hal ini Bugis), yang dinyatakan Andi sendiri adalah keunggulan dari pasangan SBY-Boediono (karena dia memang tim suksesnya)..

    saatnya bangsa ini berpikir lebih dewasa dan matang lagi

  • 4 July, 2009, 2:49

    memang kalo di cermati pernyataan pak andi itu sama sekali tidak ada unsur penghinaan, dan sebenarnya juga dari pihak media jangan terlalu membelokkan pernyataan dari “ada waktunya” ke “belum saatnya” atau “belum waktunya”.
    asumsi saya jika perkataan itu “ada waktunya” berarti bisa juga sekarang dan bisa juga waktu yang akan datang, berbeda dengan makna “belum waktunya” atau “belum saatnya” yang menjadi untuk periode tahun ini belum bisa menjadi pemimpin.

  • Rakyat Biasa
    8 November, 2009, 12:21

    Forum bebas bicara di facebook untuk menyampaikan ungkapan cinta, opini, keluh kesah, harapan, kritik, dan saran kepada pemimpin kita

    http://www.facebook.com/pages/Presiden-Indonesia/204016290557

Tinggalkan komentar disini