
Jakarta – Deklarasi Pemilu Damai resmi digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (10/6) malam. Rangakain acara deklarasi yang dipandu oleh musisi senior Titik Puspa ini dihadiri tiga pasangan capres-cawapres, Mega-Prabowo, JK-Wranto dan SBY-Boediono. Namun, kedamaian sempat ‘diganggu’ oleh penampilan kesenian dari PDIP yang diwakili oleh monolog Butet Kartaredjasa dianggap menyindir capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Butet yang menjadi pengisi acara kesenian yang disuguhkan kubu Mega-Prabowo, dalam monolog-nya terus menyindir pemerintah. Hampir semua bidang dikritisi oleh Butet yang memang terkenal suka menyentil itu. Kubu SBY pun merasa kecolongan dengan tindakan Butet. Terlebih lagi, tidak sedikit pun pemberitahuan dari panitia tentang apa yang akan disuguhkan Butet. “Saya melihat itu tidak ada dalam agenda acara,” sesal Marzuki Alie.
Sekjen DPP Partai Demokrat ini menilai, gara-gara sindiran-sindiran Butet tersebut mengakibatkan acara yang mestinya berjalan damai berubah menjadi terprovokasi. “Arena yang seharusnya menonjolkan suasana damai tetapi terjadi provokasi. Membuat masyarakat terprovokasi,” ujar anak buah SBY.
Penampilan Butet yang agak ‘nakal’ ini disayangkan oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary. “Memang seyogyanya hari ini adalah kampanye damai tidak menimbulkan perasaan tidak enak pada orang lain,” sesalnya.
Namun, anggota KPU Andi Nurpati menilai, orasi Butet bukan merupakan bentuk provokasi ataupun serangan. Ia menganggp hal itu sebagai sesuatu yang dikemas sesuai dengan ekspresi yang diinginkan pasangan capres-cawapres untuk deklarasi pemilu damai.
“Bahwa ada eskpresi yang dinilai begitu ekspresif menurut saya wajar saja. Kami memang menyediakan waktu dan tempat untuk setiap pasangan calon menyampaikan atraksi seni dan memang kita tidak mengatur secara detil. Atraksi apa saja boleh,” tuturnya.
Penampilan Butet untuk ber-monolog di panggung Deklasi Pemilu Damai, terlihat sangat berani. Misalnya, Butet menyebut-nyebut soal pemberantasan korupsi yang rasa-rasanya masih tebang pilih. “Pemberantasan korupsi mestinya tidak boleh pandang bulu, siapa pun itu. Baik menteri, mantan menteri atau siapa pun, bukannya malah didutabesarkan,” kata Butet yang disambut tepuk tangan hadirin.
Butet juga menyinggung soal banyaknya pesawat milik TNI yang jatuh dan menyebabkan korban jiwa. “Kemarin ada Hercules jatuh, sampai-sampai ada anekdot di luar yang mengatakan, wah pesawat Indonesia nggak usah dipakai perang pada jatuh sendiri,” katanya.
Suasana di dalam ruang pertemuan sepertinya berubah panas. Beberapa hadirin tampak hening dan menyimak kata-kata Butet. Tak cukup sampai di situ, Butet pun menyentil Komisi Pemilihan Umum (KPU). Butet berharap, kekisruhan daftar pemilih tetap (DPT) tidak terjadi lagi. “Rakyat meminta, agar semua nama yang sudah sah memilih dapat masuk dalam daftar pemilih. Jangan nanti KPU bilang, kami nggak sengaja. Nggak sengaja kok terus-terusan,” lontar Butet. Ketua KPU pun tampak tertawa mendengar kata-kata tersebut.
Butet juga berharap, KPU dapat menjadi lembaga yang independen. “KPU harus beda dengan lembaga survei yang bekerja berdasarkan pesanan,” tutur Butet. Kata-kata ini langsung disambut tepuk tangan meriah dari pendukung Mega-Prabowo. Bahkan saat Butet menyelesaikan monolognya, kubu Mega-Prabowo terus bertepuk tangan hingga MC memanggil nama Mega-Prabowo untuk menyampaikan orasi kebangsaannya.
Para capres-cawapres memperlihatkan wajah yang berbeda saat Butet manggung. Mega-Prabowo tampak menikmati, JK dan Wiranto juga tampak tenang, sedangkan SBY dan Boediono tampak terdiam, meski kadang-kadang tersenyum.
Lamanya Butet membacakan monolognya membuat Ketua KPU sempat menunjuk jam tangannya yang dialamatkan kepada sesama anggota KPU. Anggota KPU I Gusti Putu Artha juga tampak celingak-celinguk seakan ingin memberitahukan bahwa waktu untuk penampilan tim Mega-Prabowo sudah habis.
Sementara itu, penampilan SBY-Boediono dan JK-Wiranto tampak biasa. Tim SBY-Boediono menampilkan nyanyian dan tarian Melayu dan Palembang. Sedangkan tim JK-Wiranto menampilkan tarian kreasi moderen yang dibawakan oleh para penarik berpakaian Merah dan Putih.
Kritik KPU
Tampil memberi sambutan pertama, capres Megawati menyindir KPU yang merubah-rubah jadwal deklarasi pemilu damai. Mega berharap KPU menjaga independensi dalam melaksanakan pemilu. “Pada malam ini kita ingin membulatkan tekad bersama untuk mensukseskan pemilu 2009 yang semula dijadwalkan tanggal 10 pagi kemudian diganti tanggal 10 malam ini. Hal ini menunjukkan bahwa KPU tidak tegas dalam menyusun jadwal deklarasi pemilu damai ini,” papar Mega dalam sambutan deklarasi pemilu damai.
Mega kemudian menyampaikan harapannya agar KPU dapat bertindak menjadi wasit yang fair dalam menyelenggarakan pemilu 2009 yang menyisakan pilpres bulan depan. “Suksesnya pemilu tidak ditentukan siapa yang menang ataupun siapa yang kalah tetapi apakah pemilu diselelnggarakan dengan fair oleh insitusi penyelenggara yang netral dan tidak diintervensi,” tutur ketua umum PDIP.
Ia pun menyampaikan keinginannya agar KPU benar-benar memperhatikan hak pilih rakyat. Dengan demikian pemilu benar-benar menjawab keinginan rakyat. “KPU dan pemerintah harus menjamin semua rakyat Indonesia memiliki kesempatan menggunakan hak pilihnya 8 Juli mendatang,” pintanya.
Menurut Mega, azas pemilu tidak mengenal rekayasa. Pemilu harus diselenggarakan jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia. “Rekayasa apapun yang dialkukan siapapun adalah perbuatan kriminal politik yang mencederai hak rakyat. Sukses pemilu ditandai dengan jurdil dan keterwakilan suara rakyat,” tandasnya.
Menanggapi kritikan Mega, Ketua KPU menyatakan berterima kasih. “Saya bersyukur dengan koreksi-koreksi tadi. Saya berterimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan koreksi. Terhadap persoalan koreksi, ya kita buktikan saja nanti seperti apa,” kata Hafiz.
Tentang kritikan Mega bahwa KPU suka mengulur-ulur waktu, Hafiz menyangkal dan mengaku bahwa sebenarnya yang menentukan jadwal Deklarasi Pemilu Damai adalah ketiga pasangan capres-cawapres sendiri. “Kok dibilang kita yang mundur-mundur. Contoh lagi, masing-masing dari mereka hanya diberi waktu 20 menit dalam orasi, tetapi kenyataannya kita bisa lihat sendiri kan seperti apa,” bantahnya.
Sementara itu, SBY yang tampil di urutan kedua, dalam sambutannya menekankan terwujudnya pemilu damai. “Terima kasih kepada KPU, karena dalam pemilu legislatif walaupun terdapat kelemahan, tapi terselengara secara aman dan damai. Tidak terjadi insiden dan benturan apapun. Saya berharap dalam pilpres keadaan seperti itu dapat terpelihara,” kata SBY.
Untuk mememelihara pemilu yang damai, lanjut SBY, harus ada partisipasi penting rakyat yang akan menentukan masa depan bangsa. Dengan semikian, ada dua hal yang diharapkan memaknai pemilu. “Diharapkan rakyat bisa menyampaikan aspirasinya. Gunakan hak pilih Saudara. Jangan golput. Kedua, pemilu dapat dilaksanakan secara langsung, bebas, rahasia dan jujur adil. Serta tidak kalah penting, pertahakan situasi, aman, tertib dan damai,” tuturnya.
Sejalan dengan semakin mekarnya demokrasi yang diraih berkat jerih payah semua, kata SBY, ia meminta semua pihak membangun kompetisi berbudaya dan beretika. “Kadang keadaan politik itu dinamis, keras, dan panas. Tapi tidak perlu melebihi batas kepatutan,” serunya.
“Ke hadapan calon presiden dan calon wakil presiden lain, marilah kita melakukan kompetisi secara sehat, berbudaya, dan beretika. Mari kita jalin silaturahim kita, walaupun posisi kita dari periode ke periode berbeda. Kita bisa menjalin persaudaraan dan slaturahim,” tambahnya.
Giliran capres Jusuf Kalla (JK) yang tanpil di urutan terakhir, justru mengeluarkan ceplos-c
eplos dengan bercanbda ria. “Biasanya pembicara terakhir itu inspektur upacara,” kata JK mengawali pembicaraan disambut tawa hadirin.
Tampil tanpa teks, JK tampak lebih santai dibanding para capres yang lain. Dalam sambutannya, JK akan menghormati siapa pun yang akan menang dalam Pilpres 8 Juli 2009 mendatang. “Kalau bukan kami yang menang kami tahu ada yang lebih baik dari kami, dan kami akan menghormatinya siapapun yang menang, karena siapapun itu adalah presiden kita bersama,” ucap JK lagi disambut tepuk tangan meriah.
JK mengimbau semua pihak untuk bertindak adil dan tidak berpihak, baik kepada penyelenggara pemilu, yaitu KPU maupun kepada seluruh aparat keamanan yang nantinya akan mengawal jalannya proses pemilu dengan senetral-netralnya. “Tentu kita harapkan juga adanya peranan media massa yang betul-betul independen dan juga mahasiswa yang senantiasa menjaga langkah-langkah kita ke depan,” paparnya.
Akhirnya, ketiga pasangan capres-cawapres telah selesai melakukan Deklarasi Pemilu Damai yang diselenggarakan KPU. Acara ini diakhiri dengan penandatanganan prasasti pemilu. Prasasti pemilu dalam persaudaraan tersebut ditandatangani secara bergantian oleh pasangan capres-cawapres sesuai dengan nomor urut.
Sebelumnya, mereka terlebih dahulu bergandengan tangan dengan mengangkat tangan keatas sebagai simbol bahwa mereka siap berkompetisi secara fair. Para pasangan capres-cawapres juga membacakan sumpah dengan semangat persatuan dan persaudaraan siap menciptakan pemilu yang aman tertib dan damai. Para capres juga bersumpah untuk menciptakan kesejahteraan bangsa serta terpeliharanya keutuhan NKRI. (*/ARI)
sumber: Jakarta Press

By starlight21, 12 June 2009 at 4:34 am
saatnya pemimpin Indonesia mau menerima kritikan dengan legowo
By lina yuliana, 30 June 2009 at 1:43 pm
calon peminpin itu yang harus mengabdi pada takyat, jangan yang haus akan kekuasaan…