Mengapa Spanyol bisa dikalahkan AS?

Achtung!. Spanyol tak Mampu

Sudah lihat hasil Piala Konfederasi pagi tadi?. Wah gue turut prihatin dengan kekalahan Spanyol. Bagi anda penggemar Spanyol, silahkan kecewa, tapi itulah sepak bola. Apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi. Spanyol, yang sebelumnya membukukan kemenangan beruntun 35 kali tanpa kalah di pertandingan Internasinal, rekornya ternodai oleh tim yang samasekali tidak diperhitungkan sebelumnya, Amerika Serikat.Yang lebih menghebohkan lagi, Spanyol kalah telak 2-0.

Saya bukan penggemar berat sepakbola. Hanya kadang-kadang saja. Tadi malam sempat lihat separuh babak pertama dan full babak II, hanya karena tidak bisa tidur saja. Tetapi saya ingin memberikan sedikit ulasan mengapa Spanyol bisa kalah. Sebenarnyalah, penasaran saya terhadap sepakbola hanya satu. Sama penasarannya dengan ulasan catur, yaitu  strategi apa yang dilakukan pelatih ketika timnya terdesak, apa yang dikatakan kepada pemain pengganti, dan bagaimana pelatih membaca situasi, memilih pemain baru yang potensial sesuai dengan strategi yang dia siapkan. Biar puluhan kali saya melihat pertandingan sepakbola (baik di TV maupun ketika teman-teman futsal), saya tidak bisa memposisikan diri sebagai pengambil keputusan dan peracik strategi. Mungkin karena belum memahami dasar-dasar sepakbola saja.

Terlepas dari hal diatas, dibawah ini adalah hasil analisis saya tentang jalannya pertandingan.

Secara suasana kebatinan, seharusnya Spanyol diatas angin. Dan memang benar, karena rekor mereka yang impresif dalam laga-laga sebelumnya, seluruh punggawa Spanyol yakin akan mampu melaju ke final, bahkan mungkin sudah merancang strategi bagaimana menghadapi Brazil nantinya. Perasaan seperti ini sebenarnya bisa menguntungkan, bisa pula merugikan.

Menguntungkan karena akan melipat gandakan motivasi para pemain, namun bisa juga merugikan kalau para pemain cenderung meremehkan lawan yang dihadapi. Selain itu, beban berat ada di pihak Spanyol, karena publik terlanjur mengharapkan final ideal antara Brasil – Spanyol, sehingga semua tentu berpediksi bahwa Spanyol dapat dengan mudah menggulung AS. Dan terbukti hal ini salah.

Di fihak lain, posisi AS sebagai tim underdog justru menguntungkan. Mereka bisa bermain lepas. Kalau menang akan jadi hebat, tapi kalau kalah dimaafkan, karena “wajar dong, AS kalah. Lawannya khan Spanyol”. Dengan demikian AS dapat mengembangkan strategi yang dimilikinya, ditambah dengan spirit agar tidak “dipandang sebelah mata” dalam peta persepakbolaan dunia.

Yang kedua, Pengalaman menunjukkan bahwa Spanyol selalu kesulitan apabila lawan bermain defensif. Hal ini terlihat dari permainannya melawan IRAQ. Dapat pula dilihat bahwa gaya para pemain Spanyol yang mengandalkan Sepak bola Indah dengan skill individu yang tinggi, selalu kesulitan melawan gaya defensif lawan. Contohnya adalah ketika Chelsea melawan Barcelona. Saya melihat, baik pada babak pertama maupun kedua, AS menumpuk sampai 9 pemain di lini belakang, yang menyebabkan satu golpun Spanyol tidak mampu masukkan. Selain itu, dari sisi kecepatan, memang tusukan-tusukan Pemain AS, terutama si Jose sangat efektif, dan tidak mampu diantisipasi oleh 3 defender Spanyol. Lagipula, mereka hanya mengandalkan 3 pemain ini untuk bertahan di kotak penalti. Hanya memang kadang-kadang Ramos turun untuk mengamankan gawangnya, yang pada babak 2 justru menjadi sebab lahirnya gol penentu kepulangan Spanyol.

Yang ketiga, akibat terlalu mengejar kemenangan, mereka kurang sabar dalam mencoba membongkar pertahanan lawan. Saya tidak tahu mengapa dalam posisi genting, si pelatih Del Bosque samasekali tidak memberikan arahan kepada anak buahnya untuk mengubah strategi. Mungkin, seperti yang saya katakan diatas, mereka sudah terlalu yakin mampu membalas ketertinggalan satu gol dengan menyerang secara bertubi-tubi. Tapi serangannya selalu gagal, karena AS seperti yang saya bilang tadi, telah menumpuk 9 pemain, bahkan saat babak awal.

Nah, sebenarnya metode yang mungkin mendulang sukses adalah, mempermainkan bola dulu di wilayah sendiri, sampai pertahanan lawan agak terbuka, kemudian mengumpan jauh ke depan. Ini seperti strateginya Chelsea, dari Peter Cech, bisa langsung diumpan terobosan ke Drogba. Spanyol sebenarnya beberapa kali mampu melakukan umpan terobosan lewat Mata di sayap kanan, namun ketika sampai di tengah, akibat terlalu padatnya pemain AS, Torres maupun Villa selalu gagal mengarahkan tendangannya ke gawang AS.

Itulah 3 hal yang membuat Spanyol harus mengakhiri episode impresifnya bersama Brasil. Sekali lagi menurut saya, ini adalah pertarungan sepakbola indah dan sepakbola hasil, dan pemenangnya adalah SEPAKBOLA HASIL. Tetapi, apapun analisanya, nyatanya Spanyol harus kalah. Kita patut angkat topi dengan mental para pemain, karena walaupun kalah, mereka masih mampu berjabat tangan, tukar menukar kaos, sesuatu yang mungkin tidak kita jumpai dalam sepakbola Indonesia.

Apakah Episode positif AS akan berlanjut di Final?.

Banyak orang yang meramalkan demikian, tetapi saya berpandangan lain. Brasil, seharusnya sudah mengantisipasi sejak mendengar kekalahan Spanyol, dan mulai meramu strategi untuk menghadapinya. Apalagi kalau punggawa Brasil membaca postingan ini (wakakakaka…). Menurut saya, AS akan tetap mengandalkan strategi serupa, karena hanya itu strategi paling efektif dan “menakutkan” menghadapi tim-tim tangguh, dan terbukti berhasil, setidaknya membuat mereka putus asa.

kita tunggu kelanjutannya…

Leave a Reply