Setiap kali masa-masa Ujian Nasional, penerimaan siswa baru maupun mahasiswa baru, kualitas pendidikan kita disorot tajam. Berbagai persoalan muncul, yang pada intinya menyangkut masalah-masalah klasik seperti kualitas output sekolah, uang sekolah dan berbagai persoalan terkait. Yang terbaru, tentu saja, kecurangan-kecurangan UNAS. Terbaru?. Sama sekali tidak baru!. Berita-berita tersebut diantaranya :
- Bongkar Sindikasi Kecurangan Unas!
- Ah, Tidak Ada Modus Baru Kecurangan UN!
- http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=68616
- http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/05/25/brk,20090525-177917,id.html
- http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/06/01/brk,20090601-179126,id.html
Kita ingin agar kualitas pendidikan kita meningkat, yang pada gilirannya akan meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Mari kita pandang persoalan ini secara proporsional, mendudukkan masing-masing pihak dan memberikan ruang bicara sebebas-bebasnya untuk memahami persoalan sebenarnya yang terjadi.
Dalam pembahasan ini, saya akan membahas 2 tingkat sekolah, yaitu sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, karena dari kedua tingkatan tersebutlah saya mendapatkan sumber berita yang cukup valid (ceritanya wawancara nich) beserta sedikit pengalaman. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan seorangpun, hanya saja, di era keterbukaan ini, marilah kita saling membuka diri dan memahami persoalan dari berbagai segi.
Kalau bicara tentang UNAS, mari bicara tentang try-out UNAS. Tolong saya dikasih data yang benar-benar valid tentang hasil Try-out seluruh sekolah se kabupaten. Karena hasil inilah yang merupakan hasil yang “agak” jujur bagi sekolah yang ingin memotret dirinya. Saya mengatakan “agak”, karena ada satu dua sekolah yang mencoba menaikkan gengsi sekolah dengan mulai melakukan kecurangan “bahkan” saat tryout. Tolong difahami, hal ini adalah untuk menaikkan gengsi sekolah, menaikkan harga jual. Soalnya mencari murid sekarang persaingannya sudah sangat ketat lho.
Dari Try-out, dimana-mana hasilnya selalu mengecewakan. Biasanya dari dinas pendidikan buru-buru akan mengatakan “Ah, ini khan masih try-out”. Memang benar sih, hasil tryout tidak bisa dijadikan patokan hasil ujian nasional, tapi tentunya orang pun tahu, bagaimana bisa tingkat kelulusan tryout yang 50%, berubah menjadi lulus 97% waktu UNAS?.
- http://www.tanjabtimkab.go.id/indonesia/component/content/article/179-kadiknas-perihatin-hasil-try-out-mengecewakan.html
- http://www.serambinews.com/news/hasil-try-out-bener-meriah-mengecewakan
- http://berita.prianganonline.com/?act=berita&aksi=lihat&id=2048
- http://www.berita8.com/news.php?cat=5&id=9802
- http://smancepiringkdl.blog.plasa.com/2007/02/28/hasil-try-out-1-kecewa/
- http://alfalahconnection.wordpress.com/2009/03/24/hasil-try-out-ma-al-falah-mengecewakan/
- http://www.kotatahu.com/?act=shhot&id=1205282743&tt=+Maschut+Kecewa+Try+Out
- dsb.
Sekali lagi, kalau mau jujur, itulah hasil yang sebenarnya. Nah sekarang, bapak-bapak dan ibu-ibu yang merasa diri paling jujur, yang gembar-gembor ingin memperbaiki kualitas pendidikan kita, bagaimana tanggapan anda?. Masih sama dengan Ka. Dinas Pendidikan kalau ditanya tentang komentarnya?
OK, apa pengaruhnya kalau semua orang jujur dalam hal ini:
Catat!. Kelulusan tingkat Nasional paling banter hanya 50-60%.
Baik, kita tetap akan konsisten untuk jujur.
Bagaimana pengaruhnya hasil ini terhadap sekolah?. Mungkin sekolah, karena kita mau jujur, dan guru-guru juga merupakan pendukung kejujuran, okelah, sekolah tidak peduli. Ini adalah hasil murni anak (Jaman saya dulu DANEM, Nilai Ebtanas Murni). Lantas, ruang kelas mana lagi yang akan dipakai untuk menampung 50% anak yang harus mengulang?. Oh, pakai Kejar Paket A khan bisa.
Bagi yang agak berpikir panjang, tentunya akan juga bertanya. Aneh khan. Apakah ada jaminan ikut kejar paket bisa lulus. Seperti apa sih kejar paket itu?.
Sebenarnya, kejar paket hanya menjembatani bagi mereka yang sudah bekerja dan ingin melanjutkan sekolah. Intinya, materinya sama, hanya dipadatkan, sekolah hanya tiap sabtu minggu saja. Bobot soal Unas kejar paket juga hampir sama, kalaupun berbeda, hanya sedikit sekali. Lantas bagaimana bisa anak yang sekolah tiap hari, bangun pagi pulang sore, masih harus lari-lari kalau terlambat, dikalahkan oleh anak kejar paket yang datangnya hanya sebulan sekali. Apa memang benar mereka lebih pintar, kok sampai bisa lolos semua?. Apa mungkin yang mengerjakan Gurunya? Lantas, dimana keadilan?
Gak peduli, pokoknya kita mau jujur!.
OK, kalau semua elemen mau jujur sih gak apa-apa. Tapi kalau hanya sekolahan sampeyan yang bermain jujur, lantas kelulusannya hanya 50%, dan dikalahkan oleh sekolah swasta “kacangan” yang kelulusannya 95%, apakah tidak sakit hati?. Belum lagi teror orang tua murid yang tidak mau tahu persoalan sebenarnya. Bagaimana bila sekolah dirusak masyarakat, gara-gara kita mau jujur? Bagaimana kondisi psikologis anak yang tidak lulus ini? apakah mereka mau terus sekolah? Bagaimana juga dengan biaya untuk kejar paket? (kejar paket biayanya mahal loh). Waktu yang terbuang?. Sementara yang lainnya tidak jujur dan berhasil?..
Tempatkan diri anda di posisi Kepala sekolah, Kepala Dinas, Menteri. Apa pengaruhnya terhadap anda bila dalam waktu kepemimpinan anda, tingkat kelulusannya jatuh sejatuh-jatuhnya. Kepsek Goblok? Pindah atau Pecat?. Padahal khan orang ini mau jujur?.
Dari yang saya dengar (entah benar, entah tidak), waktu awal-awal penerapan sistem Unas yang baru (dimana kelulusan siswa Jakarta hanya 97%, dan banyak anak jebolan olimpiade yang tidak lulus), sistem pengecekan jawaban ditangani pusat. Daerah hanya mendapatkan hasil akhir, sehingga tidak ada yang bisa dilakukan dengan hasil Unas tersebut. Entah dimana salahnya, yang jelas ada anak yang rangkingnya paling bawah di kelas, justru mengalahkan anak yang setiap tahun 10 besar. Dengan pengalaman ini, sistem yang sekarang adalah, setelah jawaban dicek oleh propinsi, maka hasil sementara diberitahukan kepada kabupaten dan diteruskan ke kepala sekolah untuk sekedar “konfirmasi”. Dalam jeda “konfirmasi” inilah biasanya terjadi cross check apakah hasilnya cukup “logis” atau tidak. Kalau tidak “logis”, kepala sekolah atau dinas kabupaten akan “bertarik urat” dengan propinsi untuk memperjuangkan. Biasanya, pengecekan ulang lembar jawaban tidak dimungkinkan (butuh waktu berapa lama untuk pengecekan ulang satu lembar jawaban diantara tumpukan ribuan lembar LJK?. Ada siswa yang “dikorbankan”, dan ada yang “diperjuangkan”. Karena ada istilah diperjuangkan, berarti yang tidak diperjuangkan, makanya istilah saya jadi “dikorbankan”.
Nah, dari sinilah sebenarnya b
anyak hal bermain. Mulai dari Ego (sekolah, dinas, propinsi, nasional), maupun alasan kepentingan yang lebih besar. Ingat loh, jujur itu sangat mahal. Maka, kejujuran tidak bisa hanya dilakukan oleh satu orang saja, karena yang jujur ini akan tergilas. Tapi harus dimulai secara serentak, mulai dari masyarakat yang berlapang dada dengan kegagalan, guru, kepala sekolah, dinas, propinsi, menteri dan seterusnya.
Gambaran kejadiannya sebagai berikut:
- Pemerintah, dengan “PD” mengumumkan bahwa nilai 5 terlalu kecil, harus jadi 5.5
- Try out Gagal, Kelulusan hanya 40%.
- Bupati memanggil Kadinas Pendidikan. “Gimana Loh kok hasil tryoutnya error begini?”. Kurang apa Pemkot membantu pendidikan?. Saya tidak mau tahu, pokoknya gimana caranya harus baik!”
- Kadinas memanggil Kasi-kasi “Saya baru saja dimarahin pak bupati. Pokoknya gimana caranya, hasil unas kita minimal harus sama dengan tahun lalu. Kalau bisa ditingkatkan. Soalnya predikat kota pelajar bisa melayang”
- Kasi berkeliling malam sebelum unas untuk briefing pelaksanaan unas kepada sekolah “Silahkan nanti dipikirkan, gimana caranya supaya bermain dengan cantik”
- Kepala sekolah dan guru menerjemahkan “bermain cantik” dengan berbagai cara. Lihat http://bkpmdbengkulu.multiply.com/reviews/item/2, dan http://www.liza-fathia.com/2009/04/dari-carier-sampe-kecurangan-un.html
- Masalah pengawas, ada 2 skenario. Skenario 1 : pendekatan berhasil, berakhir happy ending; Skenario 2 : pendekatan gagal, berakhir di penjara.
- Hasil akhir keluar. Bahkan ketika dari sekolah sudah disetting nilai maksimum 8 saja, ada yang mencapai 9. Tampaknya, di kabupaten maupun propinsi, dilakukan grading juga! (Jangan coba-coba konfirmasi, karena tidak akan diakui oleh siapapun).
- Kelulusan 97% (setelah melalui hari-hari panjang yang melelahkan), semua pihak senang. Menteri mengumumkan keberhasilan pendidikan di eranya. Sekolah menggembar-gemborkan tingkat kelulusan yang 99%. Orang tua dengan bangga mengatakan hasil unas anaknya terbaik se kabupaten antah berantah..
Masih ada yang pingin jadi Kepala Sekolah?
Nah sekarang kita akan membicarakan tingkat selanjutnya, yaitu tingkat perguruan tinggi. Di pergurauan tinggi, tingkat stressnya, terutama di perguruan tinggi negeri, tidak sehebat di sekolah. Dosen tidak peduli, anda mau lulus berapa tahun mau ngulang berapa kali. Tapi ada satu hal. Tentu saja ketua jurusan akan berhitung dengan angka dan statistik apabila terlalu banyak anak yang DO, atau kuliahnya melebihi batas, maka akan ada biaya-biaya tambahan untuk itu. Apakah akan ada pertimbangan tertentu?.
Di tingkat swasta, ternyata masalahnya hampir sama dengan tingkat SMA, cuma hal ini lebih menyangkut nilai jual perguruan tinggi yang bersangkutan saja. Jadi, apa jadinya kalau standar penilaian di perguruan tinggi negeri disamakan dengan standar pendidikan di perguruan tinggi swasta?. Beri saya data statistik, berapa banyak lulusan PTS berIPK kurang dari 2.75?. Padahal, dunia kerja tidak pernah mempertimbangkan anda lulusan dari mana.
Sepengetahuan saya, yang paling jujur di dunia ini hanya Kacang ijo saja.

By Anton, 8 June 2009 at 11:23 am
Salam p.Hari. Waktu saya browsing tentang kesiapan Pasangan SBY-Budiono e malah dapatnya artikel yang ini “Budi Anduk Cawapres? YES”. Setelah saya baca komentarnya, Masyaallah p.Hari ternyata banyak hal yang belum dikuasai oleh para pendidik (Guru dan Dosen) di Indonesia. Kebetulan saya ikut taruh komentar di sana. Kalau ada waktu p.Hari bertandang ke wordpress mathematicse dan setelah itu saya tunggu komentar bapak tentang diskusi mereka. Terima Kasih Bapak.
By Peduli Pendidikan Indonesia, 18 July 2009 at 8:03 am
tulisan yang sangat bagus, kritis dan membangun . trims
Jika ingin lebih memperhatikan pendidikan sebaiknya gunakan Sistem Informasi yang bagus…. mengapa? karena dengan Sistem Informasi yang bagus…. semua dapat dikontrol dengan cepat dan efisien….