Hasil Survey Membuktikan……

Post ini ditulis dalam kategori [ Umum ]

SBY-BOEDIONO/by Dhoni Setiawan (Kompas.com) Hati-hati, sekarang banyak beredar pelacur intelektual bernama “LINGKARAN SURVEY INDONESIA” dan “LEMBAGA SURVEY INDONESIA”. Mereka adalah intelektual-intelektuual bayaran Fox Indonesia (Konsultan Politik SBY) yang menyesatkan publik dengan informasi yang tidak valid. berhati-hatilah dengan statement-statement mereka!

Itu komentar Yudi Satrio, seorang pembaca Kompasiana yang mengomentari postingan saya sebelumnya, Mulutmu Harimaumu! Tentu saja pihak-pihak yang tidak berkenan bisa langsung mengeritik balik Yudi Satrio, asalkan tidak asal main tangkap dan jeblos ke penjara dengan alasan pencemaran nama baik sebagaimana yang menimpa Prita Mulyasari atas imelnya yang ditujukan buat RS OMNI. Bagi saya, komentar itu cukup menyambungkan ingatan saya dengan berita yang saya baca di Kompas.com kemarin berjudul Survei LSI: Elektabilitas SBY-Boediono Capai 71 Persen.

Bukan isi berita berdasarkan hasil survey LSI yang bikin saya tercengang, tetapi kalimat terakhir berita tersebut yang mengatakan: “Dalam kesempatan ini, pihak LSI (Lembaga Survey Indonesia) secara terbuka mengakui bahwa survei yang dilakukannya kali ini merupakan pesanan dari Fox Indonesia yang tak lain adalah konsultan dari kubu SBY-Boediono”.

Di sini saya tercenung, separah itukah sebuah lembaga survey bernama LSI mempertahankan hidupnya?

Kalau sebuah lembaga survey bisa dipesan, tentu saja dia akan memanipulasi data dan bahkan metoda survey yang dilakukan dimana hasilnya harus disesuaikan dengan keinginan si pemesan. Mana ada di dunia ini sebuah tim pemenangan yang memesan hasil survey untuk prediksi kekalahan capres/cawapres yang didukung si pemesan? Jangankan begitu, untuk membuat hasil survey yang sesuai metodologi penelitian (tidak manipulatif) saja tidak mungkin dilakukan karena hasilnya khawatir tidak sesuai dengan keinginan pemesan!? Saya hanya mengelus dada karena terpaksa harus mengingat-ingat istilah pedas Yudi Satrio, “pelacur intelektual”. Hemmm.. sorry to say, kawan!

Dulu saya mengenal istilah “the betrayal of intelectual” yang bila diterjemahkan secara bebas berarti “pengkhianatan terhadap intelektual”. Saya tidak mengerti apakah lembaga survey yang bisa dipesan sesuai keinginan pemesan itu bisa disebut pengkhianat intelek atau bahkan pelacur intelek, sebagaimana istilah Yudi Satrio. Tetapi satu hal, saya concern terhadap khalayak atau publik karena bagaimanapun, saya bagian dari publik! Saya ragu kalau hasil survey pesanan itu tidak dimaksudkan untuk menyesatkan dan mendustai publik.

Bagi saya tujuannya jelas: menyesatkan dan mempengaruhi opini publik.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau tim sukses JK-WIN dan MEGA-PRO juga ramai-ramai “memakai” (ini istilah di dunia prostitusi) lembaga-lembaga survey untuk membuat penelitian elektabilitas capres/cawapres yang didukungnya. Crazy abis,  publik pasti semakin dibikin bingung ngung!

Karena LSI mengaku bahwa hasil survey elektabilitas SBY-Boediono berdasarkan pesanan, maka yang saya perhatikan, angka-angka yang munculpun rada-rada ajaib dan klenik, setidak-tidaknya bagi saya. Responden misalnya, berjumlah 2.999 orang dengan margin of error 1,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Memang tidak ada masalah sih menetapkan banyaknya responden, bisa 3.001 atau dibulatkan 3.000, terserah deh. Tetapi ini dibikin 2.999.

Kita tahu SBY-Boediono mendapat nomor urut 2, sedangkan angka 999 bisa saja diartikan kegandrungan SBY akan angka 9 karena lahirnya 9-9-’49. Bukankah short code-nya SBY juga 9949. Kalau angka 999 dijumlahkan, hasilnya 27, dan jika angka 27 dijumlahkan, ujung-ujungnya jadi angka 9 juga. Demikian juga margin error yang dibikin 1,8, yang kalau dijumlahkan hasilnya menjadi 9 juga, bukan? Masih ingat Pileg yang dilaksanakan 9 April 2009? Di sana ada unsur 9-nya juga ya hahaha..

Mungkin yang tidak terpikir oleh LSI adalah hasil survey yang menempati posisi elektabilitas (tingkat keterpilihan) SBY-Boediono mencapai 71 persen. Namanya pesanan, bukankah lebih baik dibikin 72 persen saja sehingga kalau angka itu dijumlahkan hasilnya menjadi 9 juga. Atau, barangkali LSI sengaja memberi pesan tersembunyi lewat angka 71 persen itu ( bila dijumlahkan jadi 8 ) bahwa SBY-Boediono akan kembali unjuk gigi dan memenangi Pilpres pada 8 Juli 2009 nanti!? Wallahualam...

Terus terang, saya agak terpengaruh misteri angka-angka ini bukan karena membaca novel Angel and Demons karya Dan Brown dimana Robert Langdon berupaya memecahkan misteri simbol. Tetapi, lebih setelah saya membaca buku “Misteri Angka-angka” karya Annemarie Schimmel (The Mystery of Numbers). Sebuah buku yang memberi saya pencerahan atas angka-angka yang dulunya saya cuwek bebek saja!

Schimmel misalnya membedah angka 13 yang paling ditakuti orang di seluruh dunia sehingga tercetuslah istilah “Triskaidekaphobia” alias orang yang takut angka 13. Saking takutnya, tidak ada hotel atau apartemen lantai 13 atau kamar nomor 13. Ia tak lupa menguraikan kehebatan angka 8 dan angka 9. Dalam menulis buku itu (1993),  Schimmel juga menelaah angka-angka yang menjadi simbol keagamaan. Misalnya Islam yang menyukai angka 99. Saya yang muslim juga dibikin geleng-geleng dan tersadarkan oleh Schimmel, bukankah wirid yang 33 kali 3 itu kalau dijumlahkan menjadi 99, termasuk jumlah Asmaul Husna yang juga 99. Itu hanya satu contoh saja!

Saya berkeyakinan, SBY atau bahkan Anda, juga dalam satu titik percaya atas keunggulan sebuah angka atau sederet angka-angka sebagaimana SBY menyukai angka 9, meski barangkali itu hanya sebatas sugesti. Lantas apakah LSI dalam melakukan survey pesanan itu juga memperhatikan keajiban sekaligus misteri angka-angka ini?

I don’t care, eh… I don’t know! (Bersambung)

Asli dicopas dari Kompasiana.

Link yang lain

  1. Angka Golput Pemilu 2009 Mencapai Lebih dari 40% Dari pantauan beberapa Lembaga Survey, ternyata angka golput pemilu tahun...

Anda dapat berlangganan semua komentar dalam posting ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat meninggalkan pesan, atau trackback dari situsmu sendiri.

Tinggalkan komentar disini