Analisis Amatiran – Peluang masing-masing Capres menjadi Presiden Pada Pemilu Mendatang

Post ini ditulis dalam kategori [ Umum ]

Sorry, judulnya saja yang heboh, tapi bener lho, ini adalah analisis amatiran, karena sama sekali tidak didukung data-data yang memadai. Namun, karena saya ingin turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kepentingan umum. eh. maksudnya turut berpartisipasi dalam gebyar pemilu 2009, maka saya paksakan tulis juga posting ini.

Kemarin, para calon presiden sudah melakukan debat, walaupun oleh banyak pihak dituding sebagai debat yang tidak berdebat, soalnya tidak pada berhadap-hadapan. Tapi itu gak terlalu penting sih. Saya lebih sependapat dengan J. Kristiadi yang menyatakan bahwa “kultur demokrasi kita tidak bisa dengan serta merta diubah begitu saja, dari budaya feodal menuju budaya demokrasi ala Amerika. Setidaknya telah terjadi pembelajaran demokrasi yang cukup baik”. Pernyataan yang melegakan.

Gambar diatas : Pesta Demokrasi Negara Doraemon

Nah, gue juga gak terlalu peduli dengan adanya pertarungan antara LSI nya Syaiful Mujani dengan badan surveynya Prabowo. Biarin aja, mau dibeli mau enggak, yang penting kita sudah punya pilihan yang pasti.

Biarpun opini masyarakat sekarang digiring kearah pemilihan presiden satu putaran, rasa-rasanya itu ada maksudnya. Nah Analis Amatir berkata begini:

Analisa Peta Politik

Kalau menilik polling sekarang, SBY tampaknya bakal menang dengan satu putaran. Mengapa?. Karena suara anti SBY, yang notabene suaranya JK dan Mega jelas akan terbelah. Asumsikan Megawati mempunyai 14% suara PDI Perjuangan yang solid. Mereka -mereka ini tidak masuk dalam polling apapun, baik polling internet maupun polling-polling yang lain, karena pemilih Megawati identik dengan rakyat kecil. Ditambah lagi dengan pemilih Prabowo lewat Gerindranya yang sekitar 4% berarti 18%. Angka ini akan turun (atau naik) karena jumlah pemilih pada pemilu mendatang akan naik secara signifikan. Tapi paling naiknya masih dalam range 2%.

Nah, Pemilih JK, tampaknya mengalami trend naik. Ini didasarkan pada polling website ini, yang menempatkan JK di urutan kedua dengan jumlah pemilih 36% (megawati 13% dan SBY 51%). Namun secara kenyataan, mencapai angka diatas 50% (sebagai syarat pemilu satu putaran) terasa sangat berat. Mendasarkan diri pada hitung-hitungan PKS waktu akan pecah dulu, 4 partai besar pendukung SBY kalau bergabung mencapai 28%, Itu kalau mereka solid. Kenyataannya sekarang mungkin hanya PKB saja yang kelihatan solid (kaum nahdliyin pedesaan sama militannya dengan PDI Perjuangan. Asal PKB saja), sementara itu, PAN sudah kelihatan tidak solid. Misalkan Amin Rais mampu memobilisasi angka 1/4 Massa PAN ke JK, itu sudah cukup bagus, berarti tambahan 2% bagi Golkar. PKS, walaupun kelihatannya paling solid, namun para pemilihnya bebas-bebas saja memilih. Asumsi terburuk, pemilih PKS yang memilih JK akan sebesar 2% juga- berarti ada tambahan 4% buat JK. PPP tampaknya hanya 1% saja yang mendukung JK. Jadi- JK akan mendapat luberan pemilih sebesar 5%.

Total pemilih JK – 16% + 5% (hanura) + 5% = 26%

Megawati = 14% (PDI) dan 4%(Gerindra)=18%

Yang belum dipertimbangkan adalah swing voter, yaitu pemilih yang belum menentukan pilihan. Dengan iklan JK yang gencar, pada putaran 1 saya yakin JK mampu meraup angka sekitar 35%. Sementara Megawati akan mendapatkan tambahan sekitar 2%, jadi menjadi 20%.

Ok, 20+35=55%, jadi pemilu tidak satu putaran (kecuali perhitungan saya salah)

Nah, bencana akan datang apabila pemilu dua putaran, karena kubu Megawati secara kultural telah berseberangan dengan kubu SBY. Terbukti dengan 2 kali kunjungan Hatta Rajasa yang (mungkin) tidak menghasilkan kesepakatan yang diinginkan. Megawati akan mampu mengarahkan dukungannya kepada JK. Dan sekali lagi, suara PDIP ini sangat ingin diperebutkan oleh siapa saja, karena begitu solidnya. Jadi 55% dah dukungan untuk JK. Apalagi dengan gencarnya iklan di TV, yang pasti popularitas JK akan naik, bisa jadi persentasenya malah bisa naik sampai 60%.

Karena itulah dapat difahami bahwa kemudian ada gerakan untuk menggiring opini masyarakat agar pemilu satu putaran saja, walaupun tampaknya alasannya cukup logis yaitu menghemat devisa beberapa trilyun. Namun, keputusan penyelenggaraan pemilu tidak dapat serta merta diubah begitu saja. Tidak lucu dong, kalau jauh-jauh hari sudah dicanangkan pemilu dua putaran, kemudian diubah menjadi satu putaran?

Analisa Profil

Analis Amatir kemudian akan berbicara masalah profil, yang dimulai dari pasangan nomor urut 1, 2 dan seterusnya

1. Megawati – Prabowo

Tidak banyak yang bisa dikomentari dari Megawati. Bahkan jauh-jauh hari sebelum ramai bursa capres, banyak banyak analis senior yang  menganggap Megawati sebagai kartu mati. Saya sih, sebagai analis amatir, sependapat dengan hal itu. Tidak perlu komentar terlalu jauh khan.

Yang paling menarik adalah Prabowo. Dengan modal yang melimpah dan cukup kharisma, masyarakat mulai bisa menerima (lagi) sosok Prabowo. Namun sayang, beberapa stasiun TV tidak mau menayangkan iklan-iklannya. Padahal, sekali lagi, Prabowo lebih banyak bicara fakta. Fakta memang menyakitkan. Seperti waktu bercerita tentang sistem usaha perkebunan kemarin, apa yang dipaparkan sangat mengena dan Menyakitkan!. Saya sebenarnya melihat, Prabowo cukup pas digandengkan dengan JK. Lhah, Wiranto?. ntar dulu..

2. SBY – Boediono

PKS waktu sedang panas-panasnya sudah menyatakan bahwa pilihan Boediono merupakan kartu mati SBY. Bahkan Amin Rais lebih gamblang lagi menyatakan  bahwa Boediono merupakan NeoLib. Saya nggak tahu apa itu neolib atau oldlib dan nggak peduli, yang jelas memang, saat ini konsep-konsep ekonomi liberal yang (terbukti) gagal sudah tidak terlalu menarik bagi masyarakat. Sebuah gebrakan yang berani (apalagi dengan banyaknya persoalan dengan negara tetangga yang menuntut tindakan yang lebih ‘menggigit”) tentu ditunggu-tunggu masyarakat.

Ada perubahan besar pada sosok SBY setelah 5 tahun menjabat. Bahkan dengan gaya kaskuser, para kaskuser menyebut perubahan itu adalah : lebih pandai berdandan. Kita tentu sudah lupa sosok SBY 5 tahun yang lalu. Saya tidak berkomentar dengan hal ini, namun perubahan yang saya amati (maklum masih amatir), adalah keberanian untuk mengambil keputusan penting. Ya contohnya seperti keputusan menggandeng Boediono.  SBY, masih merupakan sosok yang menarik (yang karena alasan itu, saya memilihnya 5 tahun lalu, dan banyak juga teman-teman yang menyebutnya dengan alasan sederhana: “Kapan lagi kita punya presiden keren?”. Hebatnya, dalam hati kecil saya bilang, ya..ya..ya (kayak lagunya GIGI). Namun saya mengamati, pesona itu tampaknya akan menghadapi tantangan, walaupun masih saja ada yang memilih dengan alasan demikian (gak salah lho!).

3. JK – Win

JK saat ini telah menjelma menjadi sosok yang sangat menarik. Walaupun banyak pihak yang menyatakan bahwa kemampuan menyusun kata-katanya sangat kurang, tetapi saya lebih melihat hal ini karena kultur luar Jawa. Ini kalau kita mengingat gaya bicara Habibie yang tidak lugas dan pragmatis. Tentu akan sangat berbeda dengan SBY maupun yang lebih ekstrem : Anas Urbaningrum misalnya.

Sosok yang antik menurut saya, karena beliau mempunyai Indonesia Minded yang sangat tinggi. Saya bayangkan sendiri, andaikan saya jadi presiden atau wapres misalnya (ngikutin jejak Budi Anduk jadi presiden), rasa-rasanya saya tidak akan mau memakai produk sepatu dalam negeri. Tas dari Tanggulangin, Sepatu dari Wedoro, Baju dari Sritex Solo. Bukan masalah gengsinya, tapi kurang yakin apa memang enak dipakai. Itu aja. Sementara JK dengan bangga menunjukkan sepatunya buatan dalam negeri. Salut deh

Jawaban-jawaban yang diberikan waktu dialog di TV juga langsung menemui sasaran, setidaknya dijawab secara pragmatis. Bukan jawaban standar seperti : Ya pasti, nanti akan kami pertimbangkan, akan kami tampung semua persoalan itu. Tetapi jawaban pragmatis seperti :”Tentunya pemerintah tidak bisa melakukan ini sendiri. Coba kalian pengusaha buat proyeksi 5 tahun mendatang tentang apa yang dibutuh
kan, nanti pemerintah akan menghitung berapa SMK yang akan dibangun, jenis SMKnya apa dan seterusnya”.  Betul-betul jawaban karena memahami persoalan.

Selain itu berbicara dengan JK terkesan lebih nyaman, karena beliau tidak membuat jarak dengan audiense. Beda mungkin dengan Wiranto yang masih terkesan berhati-hati dan menjaga jarak (mungkin akibat budaya solonya), terlebih lagi dengan SBY yang mempunyai kharisma kuat (sehingga kadang2 audiense ter-agitasi, tidak mampu menyampaikan isi hatinya secara bebas dan terbuka.

Kalau Wiranto sih, sosoknya lebih mengingatkan saya kepada R. Hartono. Sangat menjaga image (keduanya dari kalangan ningrat). Selebihnya, biasa-biasa saja.

Sebenarnya kalau boleh memilih, saya lebih memilih JK berpasangan dengan Prabowo.

 

Jadi, pilihan ada ditangan Kita

lanJutKan!

PS: Mau punya presiden yang MEMPUNYAI DAYA TARIK KUAT?. PIlih saja yang ini

Link yang lain

  1. Inilah Calon Presiden Kita untuk 5 tahun mendatang Setelah beberapa bulan perhatian kita dialihkan oleh kasus antasari, maka...
  2. Angka Golput Pemilu 2009 Mencapai Lebih dari 40% Dari pantauan beberapa Lembaga Survey, ternyata angka golput pemilu tahun...
  3. Ada apa dengan Nomor Urut Capres? Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pengundian nomor urut pasangan capres...
  4. Pemilu 2009 dalam komentar Pemilu 2009 tinggal satu bulan lagi. saya melihat di kampung...
  5. Analisa Pasca Pemilu 2009 CATATAN Sebelum anda membaca tulisan ini, perlu saya tegaskan bahwa...
  6. Survey LRI: Dukungan Terhadap SBY Turun Drastis RI: SBY 33 %, JK 29 % dan Mega 20...
  7. Panduan Pemilu 2009 (tata cara mencontreng dan spoiler KPPS) Di website saya banyak yang menanyakan tentang cara mencontreng yang...
  8. Sentilan Butet Dalam Deklarasi Kampanye Damai 2009, memerahkan telinga beberapa pihak Jakarta – Deklarasi Pemilu Damai resmi digelar di Hotel Bidakara,...

Istilah Pencarian:

Klik untuk melihat list
Anda dapat berlangganan semua komentar dalam posting ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat meninggalkan pesan, atau trackback dari situsmu sendiri.

Tinggalkan komentar disini