Komentar Atas Pemimpin Transaksional Ali Masykur Musa

Post ini ditulis dalam kategori [ Umum ]

Menarik sekali membaca kolom oleh Ali Masykur Musa tentang kepemimpinan transaksional, yang menyebabkan saya tergelitik untuk turut mengambil beberapa hal dan menambah disana-sini. Agar pembaca dapat dengan mudah mengikuti, berikut ini saya tampilkan cuplikan ciri-ciri dari pemimpin transaksional menurut Ali Masykur Musa tersebut:

Pertama, kebijakan pemimpin hanya berdasar pada image building.

Kebijakannya bersifat trickle up effect (eksklusif) atau hanya menyuburkan kelompok dan elite tertentu.Gambaran demikian tampak dari kebijakan departemen di pemerintahan kita yang kebanyakan mengganti regulasi hanya sebatas kulit dan tambal sulam. Pemimpin seperti ini ibarat pemadam kebakaran. Bila ada api dipadamkan, tanpa mau berpikir bagaimana agar tidak terjadi kebakaran lagi. Bagi mereka,pencitraan jauh lebih penting ketimbang pemberdayaan. Mereka hanya pandai mengolah retorika dengan kecanggihan kemasan humas.

Kedua, pemimpin pro-status quo.

Tidak ada inovasi berarti untuk mengubah kondisi stagnan menuju kondisi lebih dinamis.Mereka ragu mengambil kebijakan tegas sehingga beragam problem selalu lambat ditangani. Pada saat yang sama, mereka sangat menikmati ”kue kekuasaan” yang telah diperolehnya sambil berupaya dengan segala cara untuk mempertahankan, tanpa berpikir regenerasi dan penyegaran sistemik.

Kita melihat betapa drama realis pentas politik negeri ini selalu diwarnai ketidakrelaan pemimpin menyerahkan kekuasaan kepada generasi baru.

Ketiga,pemimpin yang memperlakukan rakyat sebagai pemain dalam suatu proses perdagangan.

Keputusan yang diambilnya harus mencerminkan hubungan untung-rugi. Kepekaan yang diasah bukanlah kepekaan krisis (sense of crisis) dan keprihatinan sosial, melainkan kepekaan pasar (sense of market).

Keempat, pemimpin yang hanya menampilkan silat lidah yang menakjubkan, bukan pemimpin yang mengedepankan mata hati sebagai oase kehidupan.

Banyak sekali pemimpin yang kita lihat jika berpidato memukau audiens,tetapi yang kita tangkap bukan dari kedalaman hati, hanya olahan kata. Ke depan, dibutuhkan pemimpin altruistik yang bersenyawa dengan denyut nadi rakyat, bukan justru sebaliknya. Pemimpin altruistik adalah pemimpin yang mengedepankan kedalaman mata hati sebagai refleksi dari kepedulian sosialnya.

Kelima,pemimpin yang tidak mampu memberikan enlighten (pencerahan) bagi perubahan bangsa dan negara kita.

Apapun, sesungguhnya rakyat Indonesia paham benar jika bangsa ini sedang menghadapi masalah ekonomi. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu menggugah semangat kebersamaan sebagai bangsa yang berdaulat.Jika rakyat menyadari kekurangannya, maka tugas pemimpin, paling tidak,harus mampu membangunkan semangat dan harapan masa depan. Pemimpin seperti ini biasa disebut dengan pemimpin visioner.

Kelima ciri yang ditampilkan diatas, tampak sangat nyata dalam masyarakat saat ini. Tanpa perlu berbasa-basi, cobalah untuk mengkaji kapasitas dan kapabilitas calon legislatif pada pemilu yang baru saja usai. Sebenarnya diantara mereka, berapa persen yang betul betul kapabel?. Dengan sistem banyak partai seperti sekarang, tidak bisa dihindarkan akan banyak calon-calon legislatif baru yang bermunculan. Bahkan mereka-mereka yang tidak  punya latar belakang politik pun ikut-ikutan mencalonkan diri. Asal punya banyak uang, tim sukses yang kuat, maka harapan menang akan semakin besar. Apa yang tidak bisa dijual?

Membandingkan era kepemimpinan terdahulu (Sukarno dan Suharto) dengan era keterbukaan masa kini, membawa saya pada sebuah ayat:

annur

Saya membaca ayat tersebut lebih banyak berbicara tentang pemimpin yang seharusnya mempunyai LEGITIMASI, diakui, dihargai oleh yang dipimpinnya. Sesuatu yang saat ini mulai hilang (atau dikikis) dengan dalih kebebasan berekspresi, demokrasi, hak asasi dan semacamnya. Pemimpin bisa saja salah, itu wajar sebagai manusia biasa, namun satu dua kesalahan tidak lantas membuat sang Pemimpin layak untuk mendapatkan cacian, makian dan hinaan. Kalau terlalu banyak salah, ya, sebenarnya Pemimpin tersebut tidak layak untuk jadi pemimpin.

Masalahnya, agama lebih banyak berbicara mengenai hati, sesuatu yang sangat abstrak. Jadi kalau kita memilih pemimpin yang salah, saran agama adalah : seharusnya pemimpin tersebut menyadari bahwa dia tidak mampu memimpin. (Padahal jadi pimpinan itu enak lho, sampai banyak yang gak mau turun). Atau jawabannya seperti ini : Rakyat juga salah, kenapa memilih pemimpin yang tidak kapabel. Bandingkan dengan solusi praktis : Mari kita demo, menuntut sang Pemimpin TURUN!. Kalau tidak turun, akan ada pengerahan massa yang lebih besar!.

Namun sering, sebuah demo hanya akan berakhir dengan kericuhan, kematian sia-sia dan kerusakan. Siapa sanggup bertanggungjawab atas tingkah polah massa yang berkumpul sedemikian banyak, dimana mereka memang dipanas-panasi dengan kata-kata maupun suasana (jarang khan demo di ruangan ber-AC diiringi musik lembut gitu). Betapa murahnya harga nyawa kita.

Saya lebih tertarik untuk menghidupkan sifat tepo-seliro yang selama ini menjadi nafas dan ciri khas bangsa Indonesia. Mungkin sebaiknya hal ini dimulai dari para pemimpin, agar tidak mudah saling menjegal dan menjelekkan satu sama lain. Mungkin ayat yang serupa dengan ayat diatas adalah ayat ini

hujurat 49

Link yang lain

  1. Pemilu 2009 dalam komentar Pemilu 2009 tinggal satu bulan lagi. saya melihat di kampung...
  2. Korban Demokrasi! Saya prihatin mendengar berita yang sedang hangat-hangatnya hari ini, yaitu...
  3. WAAAH… TNI AL TEMBAKI RAKYAT!! Tentunya berita ini masih hangat saat saya menulisnya. Tidak kurang...

Istilah Pencarian:

Klik untuk melihat list
Anda dapat berlangganan semua komentar dalam posting ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat meninggalkan pesan, atau trackback dari situsmu sendiri.

Tinggalkan komentar disini