Rangkaian pesta demokrasi guna memilih anggota dewan terhormat telah usai. Kemeriahan kampanye dan janji surga telah usai. Kini saatnya menghitung untung rugi bagi para caleg. Bagi yang memperoleh suara dukungan, tentunya saat yang manis akan berlanjut dengan menghitung pundit-pundi untuk mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan berikut potensi keuntungan yang akan diraup.
Namun sebaliknya, inilah saat yang sangat tidak menyenangkan bagi para caleg yang kalah, mempunyai dukungan suara tipis atau bahkan tak memperoleh suara sedikitpun. Meski perhitungan suara belum final, sudah banyak para caleg yang stress dan depresi bahkan berpotensi gila. Tidak saja kecewa karena gagal menduduki kursi dewan yang terhormat, namun terbayang saja harta benda mereka yang habis untuk dikorbankan dalam kampanye pemilu dan mungkin juga untuk money politic. Bahkan banyak dari mereka yang berhutang dalam jumlah ratusan juta bahkan milyaran untuk membiayai pesta demokrasi yang sungguh meriah tersebut. Seorang caleg dari PPRN di Bulukumba, Sulawesi menyegel sebuah Sekolah Dasar Negeri di kota kecil itu, karena kecewa tak memperoleh suara. Tak diketahui apakah ia kecewa karena siswa SD tersebut tak mencontreng namanya atau bagaimana.. he..he… Di Solo, Jawa Tengah, seorang caleg perempuan, Sri Sumini, bahkan meninggal dunia karena serangan jantung setelah mengetahui perolehan suaranya. Belum lagi, caleg dari Partai Patriot yang terpaksa dibawa ke dukun untuk disembuhkan karena kalah dan berhutang dana kampanye sebanyak 300 juta rupiah. Sementara Balai Kesehatan Jiwa di Palangkaraya juga telah menerima dua pasien gangguan jiwa yang juga menjadi caleg.
Itulah gambaran nyata bila pemilu dijadikan ajang berjudi dan bukan ajang pengabdian bagi masyarakat. Bagi yang kalah berjudi, kegalauan jiwa pasti akan datang menyerang. Sementara bagi yang menang pun, hanya unggul bagi dirinya sendiri dalam arena judi tersebut. Karena mereka tak lama lagi mereka juga akan berhitung untuk mengeruk dana masyarakat untuk mengembalikan biaya berjudi yang mereka lakukan, dan tentu juga mengeruk keuntungan yang tak sedikit melalui lahan korupsi berbagai anggaran negara.
Dan Apa yang sedang hangat di Forum-forum berita?
DAFTAR RSJ penerima caleg GILA
1. Riau : Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan
spek : 20 kamar khusus, VIP, 10 x 7 meter untuk pasien 4 – 7 orang
2. Surabaya : Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur
spek : 30 tempat, baik Kelas Utama maupun VIP, Rp 25.000 per hari
3. Ambon : RSJ Nania
spek : nope (Detikforum)
Kalah, Caleg di Tangerang Mengamuk
Seorang calon legislator daerah pemilihan Tangerang, kawasan di perumahan elit Alam Sutera Kunciran, stres dan marah-marah karena kalah dalam pemilu legislatif 9 April lalu.
Sekitar pukul 17.00 Wib saat penghitungan suara dilakukan, seorang pria (40) yang merupakan caleg dari partai tertentu, terlihat frustasi saat mengatahui kalah dalam perolehan suara.
Dia merangkak dipinggir jalan dengan membawa-bawa cangkir sambil meminta-minta uang kepada orang yang berlalu lalang, katanya kembalikan uang saya, kata caleg itu. (Detikforum)
Dua Caleg di Kalteng Terganggu Jiwanya
Kepala Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat Kalawa Atei, Wineini Marhaeni Rubay, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (13/4), menuturkan, ada dua calon anggota legislatif dan tiga simpatisan yang mengalami gangguan jiwa akibat harapannya di pemilu legislatif tidak terpenuhi. Lima orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut berasal dari tiga partai yang berbeda.
“Dari lima orang tadi, sebanyak dua orang melakukan konsultasi, sedangkan tiga lainnya harus rawat inap. Satu menginap di sini, satu di JAM (Joint Adulam Ministry), dan satunya lagi di institusi lain,” kata Wineini.
(http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/13/15271898/Dua.Caleg.di.Kalteng.Terganggu.Jiwanya)
SABTU, 11 APRIL 2009 | 13:03 WIB
GARUT, KOMPAS.com — Kini mulai bermunculan beberapa caleg di Kabupaten Garut yang diindikasikan kuat mengalami stres berat. Bahkan, sempat terjadi dua caleg dari dua parpol berbeda marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya.
Hal itu terjadi menyusul keduanya juga diindikasikan telah menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Namun, kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas.
Selain itu, juga terdapat salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui dari hasil perolehan suara sementaranya kalah telak, ungkap sumber yang enggan disebut namanya, juga enggan menyebutkan identitas caleg tersebut, Sabtu.
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/11/13035736/caleg.stres.mulai.bermunculan
SENIN, 13 APRIL 2009 | 14:06 WIB
SOLO, KOMPAS.com — Calon anggota legislatif (caleg) Partai Demokrat asal Dapil III Banjarsari, Solo, dengan nomor 5, bernama Sri Sumini umur 52 tahun, sekitar pukul 05.00, Senin (13/4), meninggal dunia di RS Pantiwaluyo, Solo.
“Hari ini juga jenazah almarhum akan dimakamkan di pemakaman umum Solo,” kata Joko Suprapto, suami almarhum kepada wartawan di rumahnya di Solo, Senin.
Menyinggung mengenai perolehan suara istrinya yang mencalegkan dari Partai Demokrat, ia mengatakan hanya mendapat dukungan sekitar 1.000 suara dan kemungkinan besar tidak bisa meraih kursi di DPRD Kota Surakarta.
“Istri saya ini sebelum meninggal sebenarnya sudah sakit dulu dan pada kampanye terakhir tanggal 5 April 2009 itu juga sebenarnya sudah sakit, tetapi beliau nekat hadir dalam kampanye,” ucapnya.
SENIN, 13 APRIL 2009 | 09:20 WIB
BATAM, KOMPAS.com — Dana kampanye yang dikeluarkan calon anggota legislatif mulai terungkap. Hj Titin Nurbaini, caleg DPRD Provinsi Kepri dari Partai Demokrat, mengaku telah mengeluarkan dana hingga Rp 1,4 miliar.
Untuk kepentingan kampanye, Titin mengeluarkan dana Rp 1,183 miliar. Dana itu belum ditambah gaji anggota tim sebesar Rp 200 juta. “Sisanya biaya transportasi, kebutuhan konsumsi, dan membeli obat-obatan untuk dibagikan kepada masyarakat,” ujar ibu yang akrab disapa Jeng Ayu ini kepadaTribun.
Jeng Ayu menempati nomor urut 3 daerah pemilihan Batam. Perolehan suara Jeng Ayu diperkirakan akan terdongkrak menyusul naiknya suara Partai Demokrat. Kendati mengeluarkan dana yang fantastis, Jeng Ayu mengaku tidak pusing. Alasannya isi pundi-pundinya itu justru didapat dari masyarakat dan dikembalikan kepada masyarakat.
Jeng Ayu yang membuka praktik pengobatan alternatif ini mengaku berpenghasilan hingga Rp 160 juta per bulan. “Saya percaya, insya Allah jika melaksanakan amanah dan menjalankan agama dengan baik, rezeki yang lebih banyak akan selalu datang,” jawabnya mantap.
Kalah, Sejumlah Caleg di Bogor Datangi Ustad
Bukan hanya Rumah Sakit Jiwa yang jadi tempat untuk mengobati caleg yang gagal dalam pemilu. Bahkan sebuah Padepokan Majlis Dzikir Arrusy (MDA) di Lereng Gunung Salak Kampung Bitung, Desa Bitung, Kecamatan Tenjolaya, Bogor menjadi alternatif untuk menenangkan caleg yang tidak lolos.
Pimpinan Padepokan Majlis Dzikir Arrusy, ustadz Saefudin Zuhri mengatakan, kedatangan mereka untuk berkonsultasi dan memang sudah menjalani rawat jalan karena diduga stres.
“Rata-rata mereka
mengeluh stres karena sudah kehabisa uang, karena ongkos untuk maju sebagai caleg cukup tinggi,” kata ustadz Saefudin Zuhri ditemui VIVAnews, Selasa 14 April 2009. “Mereka harus mengeluarkan uang mulai Rp 100 juta hingga Rp 500 juta,”
Mereka yang datang rata-rata dari partai besar sudah mulai mendatangi padepokan sejak Jumat 10 April 2009, dengan tujuan menenangkan diri dan menjalani terapi pengobatan.
Tak Dicontreng, Bantuan Alat Musik Ditarik
Gara-gara tak mendapat suara dalam pemilu legislatif 9 april lalu, calon anggota legislatif DPRD Kota Palembang, Fathur Rahman, mengambil kembali bantuan alat musik organ dari sebuah kelompok rebana.
Ulah sang caleg membuat para ibu anggota kelompok rebana sangat prihatin. “Kami kecewa karena dulu saat kampanye memberinya dengan ikhlas,” ujar Ketua Kelompok Rebana, Nuriyah, Selasa 14 April 2009.
Kader Partai Demokrat itu menarik bantuannya dari kelompok rebana yang bermarkas di Jalan A Yani, Lorong Kenari VIII Ulu, Kecamatan Sebrang Ulu II, Palembang, dengan alasan meminjam. Namun hingga kini tak ada kabar dan tak ada tanda-tanda akan dikembalikan.
Saat dikonfirmasi, Fathur Rahman membantah kasus itu. Ia mengatakan tak pernah berkampanye dan memberi bantuan di daerah itu. “Yang memberi bantuan keponakan saya,” ujarnya.
Caleg Diduga Stres Nyaris Tewas Tabrakan
Calon anggota legislatif Kabupaten Kupang dari Partai Golkar mengalami kecelakaan hebat saat mengendarai motor. Korban yang diketahui bernama Kristofel Max ini diduga mengalami stres lalu menggeber motornya dengan kecepatan tinggi.
Kristofel diduga stres karena suara yang diperolehnya belum mencukupi. Kristofel nyaris tewas setelah kendaraan roda dua yang dikemudikannya mengalami kecelakaan hebat, Rabu, 15 April 2009.
Kini, sang caleg harus menjalani perawatan intensif di RSUD WZ Yohannes Kupang. Kristofel mengalami luka parah dengan kondisi rahang retak, beberapa jari kaki patah, dan wajah memar.
Kristofel adalah caleg nomor 10 Partai Golkar untuk daerah pemilihan Kecamatan Kupang Timur, Kupang Tengah, Amabi Amfeto, Taebenu dan Amabi Amfeto Timur. Beberapa saksi mata mengatakan, Kristofel mengendarai sepeda motor dalam kecepatan tinggi.
Potensi Caleg Gila Capai 7.376 Orang
VIVAnews – Gagal meraih sesuatu dapat memicu depresi pada diri seseorang. Pun ketika seorang calon anggota legislatif gagal meraih kursi dewan.
Data Departemen Kesehatan menyebut, sebanyak 7.376 calon anggota legislatif berpotensi terkena gangguan jiwa berat alias gila. Sebanyak 49 caleg DPR RI, 496 caleg provinsi, 4 caleg DPD, dan 6.827 caleg kabupaten atau kota.
Sedangkan sebanyak 182.867 caleg berpotensi mengalami gangguan jiwa ringan. Sebanyak 1.246 caleg DPR, 12.312 caleg provinsi, 111 caleg DPD, dan 169.198 caleg kabupaten atau kota.
Angka itu dihitung berdasar dua variabel rata-rata yang muncul dari hasil riset Departemen Kesehatan tahun 2007. Jumlah caleg yang tersingkir dikalikan variabel rata-ratanya, yaitu gangguan jiwa ringan sebesar 11,4 persen dan gangguan jiwa berat 0,46 persen.
“Kalau jumlah riilnya yang gila kami belum terima laporannya,” kata Dirjen Dinas Pelayanan Medis Departemen Kesehatan, Aminullah, Jumat 17 April 2009.
Di sejumlah daerah, caleg yang mengalami gangguan jiwa akibat kalah dalam pemilu mulai bermunculan. Bahkan banyak di antaranya yang nekat mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Dan yang lainnya
- http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/14/232550/1115508/700/kalah-suara-caleg-golkar-cabuti-tiang-listrik
- http://www.republika.co.id/berita/43885/Kalah_Suara_Buku_Tabungan_Diminta_Kembali
- http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/13/09201487/jeng.ayu.habiskan.rp.14.m.untuk.jadi.wakil.rakyat
- http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/15/091918/1115616/700/caleg-stres-akibat-partai-terlalu-banyak-beri-harapan
CATATAN
Memberitakan hal ini, bukan berarti saya bermaksud mentertawakan kesialan para caleg yang gagal, namun agar menjadi pelajaran kepada kita semua bahwa TIDAK ADA sesuatu yang INSTANT. Orang sekarang cenderung untuk mencari jalan pintas, mengeluarkan uang sejumlah tertentu agar menjadikannya pilihan orang lain. Selain itu sistem demokrasi dengan banyak partai ternyata sangat efektif “membuat gila” bangsa ini.
Menurut saya 10 partai mungkin sudah lebih dari cukup untuk membuat rakyat bingung memilih. Entah bagaimana caranya, electoral threshold, atau sistem Degradasi seperti permainan sepak bola. Namun yang perlu digaris-bawahi adalah, partai minimal harus exist selama 5 tahun sebelumnya, baru boleh mengikuti pemilu. Dengan cara ini diharapkan tidak banyak partai dadakan yang justru akan menyengsarakan para calegnya.

By sofwan.kalipaksi, 19 April 2009 at 6:45 am
Bagaimana ya jika mereka akhirnya dirawat di RS Jiwa atau Panti Orang Gila?
Yuk kita melongok keadaan panti-panti orang gila. Seperti apa sih kondisinya. Baca ya di sini:
http://kalipaksi.wordpress.com/2009/04/19/yuk-melongok-panti-orang-gila/
By smandakaranganyar, 8 May 2009 at 6:22 am
Alhamdullilah salah satu alumni sma negeri 2 karanganyar berhasil jadi wakil rakyat di karanganyar