Korban Demokrasi!
Saya prihatin mendengar berita yang sedang hangat-hangatnya hari ini, yaitu tentang tewasnya Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Medan. Abdul Azis “mangkat” setelah dipukul oleh “massa” yang berdemonstrasi menuntut pemekaran wilayah Tapanuli.
Saya tidak tahu tentang wilayah Tapanuli, artinya opini saya ini tentu saja tidak mencerminkan keinginan “rakyat” Tapanuli, apakah mereka benar-benar menginginkan pemekaran wilayah, atau hanya sebagian kecil orang yang berlindung dibalik badan rakyat dan massa.
Rakyat, sebuah kata yang saat ini telah menjadi komoditas yang sangat menarik, “Massa” demikian juga. Menarik karena dengan menggunakan nama tersebut seseorang bisa berlindung dari tanggungjawab pribadi. Siapa yang akan bertanggungjawab, misalkan kita menamai diri “Rakyat Pro Demokrasi” “Massa Peduli Penderitaan Rakyat”. “Massa Penghajar Pencopet sampai tewas!”
Kalau dipikir-pikir, memang kita ini sangat tidak bertanggungjawab. Beraninya keroyokan. Beda dengan jagoan jaman dahulu yang berani bilang begini ” Kalau berani, ayo maju satu-satu”. Sedangkan kebanyakan jaman sekarang bilangnya “Kalau kamu macam-macam, saya bilangin bapak saya”.
Nah, berkumpulnya orang banyak tentu saja pengendaliannya sangat sulit, apalagi sekarang, kita ini sedang beringas. Beringas karena terlalu banyak rasa sakit hati yang harus kita tanggung, terlalu banyak beban yang mendera. Mulai kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan yang sempit, sekolah yang mahal, harga barang yang melangit dan sebagainya. Selain itu, berlaku rumus
1 orang penakut + 1 orang penakut = 2 orang berani
Bayangkan rumus itu jadinya bila yang ada adalah 500 orang penakut + 1 orang pengecut!.
Coba kita pikir-pikir ulang dengan berandai-andai:
Andaikan saya adalah Ketua badan A, lalu ratusan orang datang mendemo saya, mencaci maki saya, menyodorkan kertas berisi tuntutan yang harus saya tandatangani saat itu juga (biasanya saya harus mereview dan memikirkannya 2 hari dulu sebelum memutuskan). Saya dipukul, dilempari, ditendang, dilecehkan, dikatakan goblok (karena saya tidak bisa menerima logika mereka?).
Kira-kira dalam posisi seperti itu, apa yang anda rasakan?
Saya skeptis dengan sistem demokrasi kalau hanya sekedar menghasilkan orang-orang yang penakut, yang berlindung dibalik nama orang banyak, tetapi tidak berani memunculkan diri “inilah saya”. Jadi, apa yang diharapkan dari demokrasi semacam ini?. Korban yang terus bertambah??
Ternyata, harga demokrasi harus dibayar dengan nyawa…
Belum ada posting yang berhubungan.
