Kita tidak terbiasa untuk menghargai karya orang lain
Ditulis oleh webmaster pada 31 January, 2009
Belum ada komentar
Post ini ditulis dalam kategori [ Umum ]
Membaca judul diatas, anda mungkin akan bertanya tanya, darimana saudara menyimpulkan hal seperti itu?. Ah saudara ini hanya mengarang saja!.
Mungkin judul diatas perlu direvisi, namun ini saya rasakan sendiri:
- Ketika saya menulis blog ini, kemudian mencuplik dari tempat lain, rasanya agak enggan juga menuliskan sumber pengambilan tulisan itu. Saya mengaku jujur, bahwa kadang-kadang saya juga tidak jujur. Artinya penghargaan terhadap orang lain kurang.
- Ceritanya begini. Suatu ketika di pertengahan tahun 2008, saya mengikuti pelatihan tentang metode mengajar bagi guru-guru yang diadakan oleh Primagama. Waktu itu tempatnya di Sangatta (Kaltim). Ada sekitar 200-300 orang yang datang, semuanya guru-guru tentunya. Didalam seminar diputarlah sebuah film akrobat dari Cina yang menggambarkan orang orang dengan satu kaki (cacat betulan) menarikan sebuah tarian yang secara logika sangat sulit mereka lakukan. Peserta pada saat itu sudah dibagikan kue-kue dalam kotak. Sebagian besar para peserta melihat secara cuek sambil menikmati makanan tentunya. Diakhir pemutaran film, saya secara spontan bertepuk tangan (saya sudah selesai makan duluan, dan sangat memperhatikan film tersebut). Ternyata, dari sekian ratus orang yang hadir, hanya SAYA SENDIRI yang bertepuk tangan, sampai pembicaranya (waktu itu orang yogya ) bilang, “yang bertepuk tangan saya doakan masuk sorga”, sedang yang lagi makan saya doakan tidak tersedak. Ini mungkin sesuatu yang biasa dan sederhana, namun hal ini menunjukkan bahwa memang kebanyakan kita kurang bisa menghargai orang lain.
- Ada cerita dari Dosen saya (sekarang sudah professor), waktu itu membawa makalahnya ke perancis untuk Conference membawakan makalah dinamika fluida. Pada saat itu ia satu ruangan dengan pakar dinamika fluida yang teorinya dipakai untuk makalah dosen saya tersebut. Dalam sesi tanya jawab pakar tersebut menanyakan sesuatu yang bahasanya sama sekali tidak menyakitkan, padahal anda tahu?, makalah yang dosen saya bawa sebenarnya salah konsep. Tahunya ya waktu ditanyain sama pakar tersebut. Dosen saya sampai salut, beliau tidak mempermalukannya didepan banyak orang, apalagi ini konferensi internasional. Jujur, kalau kalian dalam posisi ini kira-kira apa yang kalian lakukan?
- Banyak dari kita yang menggunakan program cracking (termasuk saya dan saya yakin 90% dari kalian). Padahal anda tahu : MERUSAK ADALAH JAUH LEBIH MUDAH DARIPADA MEMBUAT. Nge-crack itu jauh sangat gampaaaang.
- Saya mencermati pidato kekalahan Mc. Cain, dan sangat salut dengan beliau. demikian juga ketika mendengar pidato kemenangan Obama. Betapa bagusnya, kata-katanya tersusun rapi dan samasekali tidak ada unsur yang menjelek-jelekkan salah satu pihak. Sementara itu, mencermati PILKADAL JAWA TIMUR?. Sedih khan. Itulah, karena kita memang tidak terbiasa menghargai orang lain, sehingga tidak siap kalah. Kita ini hanya siap menang. Apakah pilkadal perlu dibahas lebih jauh?. Semua juga sudah tahu!.
Jadi, saudara-saudara. Permasalahan kita yang pertama ini bukan masalah ekonomi, namun masalah mental. Siapa yang punya saran untuk melakukan perbaikan dalam bidang ini?
Belum ada posting yang berhubungan.
