Bangsa Indonesia Bangsa KLenik?
Mencermati tayangan metro tivi kamis malam jum’at tanggal 24 mei 2007 yang lalu, yang membahas pertanyaan diatas, saya tergelitik untuk turut serta memberikan tanggapan.
Didalam penulisan tanggapan ini, karena keterbatasan referensi yang saya gunakan, saya tidak menggunakan referensi apapun kecuali pemikiran saya (yang nggak dijamin lho.. kebenarannya).
Sebelumnya saya ingin memberikan pandangan tentang berbagai kelompok yang diundang dalam acara tersebut.
Kelompok A, kalau tidak salah berasal dari Ikatan Konsultan Supranatural Indonesia?, saya lihat pemikirannya juga cukup logis, realistis dan terstruktur, tidak kalah dengan para mahasiswa didalam menyampaikan pendapatnya.
Kelompok B, dari Ikatan Mahasiswa & pemuda Muhammadiyah, lebih mengedepankan pemikiran kritis dan logis daripada menerima hal-hal yang berbau klenik.
Kelompok C, dari Pemuda-pemudi berbagai kalangan (mungkin yang kebetulan lagi nongkrong-nongkrong di sekitar Metro tivi terus diajak masuk untuk meramaikan acara??? ) masih separuh-separuh, antara yang berpikir cenderung ke kritis, dan ada pula yang percaya klenik sepenuhnya.
Klenik, seperti yang telah dijelaskan oleh kelompok A, berasal dari bahasa jawa “klenak klenik” atau berbisik-bisik. artinya didalam berkonsultasi, karena merupakan permasalahan pribadi, berbicaranya dengan berbisik-bisik, tidak perlu didengar orang lain. Mereka berkonsultasi tentu saja atas sesuatu yang berada “diluar” kemampuannya. Saya ingin mengingatkan kembali tentang definisi GAIB (menurut Agus Mustofa maupun Ahmad Chojim), bahwa gaib adalah sesuatu yang kita tidak (atau belum?) tahu. Misalkan seseorang ahli kimia, tentu saja ilmu kimia bagi dia sama sekali tidak gaib, namun bagi orang yang tidak tahu kimia, hal ini akan menjadi GAIB. Alhasil, gaib bagi salah satu orang belum tentu gaib bagi yang lain. Setidaknya definisi ini yang saya pegang.
Dengan mengambil definisi diatas, kita bisa menerapkannya, misalkan untuk “orang pintar”. (kata-kata orang pintar sengaja saya kasih tanda kurung, karena definisi yang berbeda-beda, tergantung pada latar belakang orang yang meninjau. Kalau orang tersebut dari dinas pajak pasti “ORANG PINTAR TAAT BAYAR PAJAK”, sedangkan kalau ia bekerja di SIDOMUNCUL, “ORANG PINTAR MINUM TOLAK ANGIN”). Yang dimaksud disini adalah orang pintar, yang mampu membaca (‘atau lebih tepat meramal?), apa akan yang terjadi, misalkan dukun, pastur, kiyai, mbokdhe-mu??? dll. Peramalan seperti itu, yaitu apa yang kita pikir sesuatu yang gaib, tentu saja bagi mereka tidak gaib. Bahkan, sesuatu yang gaib seperti ini dapat didekati dengan metode ilmiah. bukankah didalam ilmu statistik ada pokok bahasan “Metode Peramalan”?.
Mereka mendapatkan metode peramalan diatas dengan berbagai “LAKU”, yang artinya berusaha untuk mendekatkan diri kepada yang MAHA GAIB, pada intinya adalah untuk membersihkan diri dalam upaya mempertajam sisi non materinya. Bukankah manusia terdiri dari unsur materi dan non materi?. Saya tidak membatasi hal ini hanya pada agama islam saja, karena saya kira semua agama ada cara-cara penyucian jiwa seperti yang saya sebutkan diatas. Entah itu Kristen, Hindu, Buddha dll. Apalagi didalam Qur’an telah disebutkan “Bertaqwalah, maka kamu akan diajari oleh alloh”. Diajari apa?,.. tentu saja sebagian dari ilmu Alloh. Ilmu apa?.. bisa ilmu logika, bisa juga ilmu non logika.. pokoknya diajari, karena ilmu alloh itu luasnya tidak terbatas (QS Kahfi).
Namun, berbeda dengan ilmu logika, dimana segala sesuatu harus dapat dibuktikan, segala sesuatu harus dapat direka ulang, maka dalam ilmu non logika ini, sebenarnya pemiliknya sendiri tidak dapat mengontrol apa yang diketahuinya. Kalau didalam ilmu statistik, seseorang meramalkan bahwa nanti sore akan hujan di daerah x misalkan, dengan alasan terjadi penumpukan awan hujan di daerah tersebut, dst….dst. sedangkan dalam ilmu non logika, hal itu tidak dapat dijelaskan.. contohnya: jangan pergi hari ini, sebaiknya besok saja, karena saya merasa….. tentu saja karena perasaan (atau indra keenam?) yang berbicara..
Ramalan, baik menggunakan logika maupun non logika masih dapat salah. sehingga dalam menanggapi setiap ramalan, kita sebaiknya berserah diri kepada alloh. saya pergi ke kiyai saya untuk berkonsultasi tentang sesuatu, lebih karena penghormatan saya kepadanya. toh kiyai saya juga tidak tahu masa depan saya, bahkan masa depannya sendiri saja tidak tahu. MEREKA JUGA MANUSIA KHAN!!. Kebergantungan saya terhadap ramalannya kecil, karena kebergantungan saya terhadap logika saya juga kecil. Posisikan ramalan sebagai ramalan. sementara sesuatu yang akan terjadi, terjadilah!…
Pandangan seperti ini yang kurang dapat dimengerti oleh masyarakat kebanyakan. Hanya karena dilarang oleh orang pintar, karena akan mendatangkan balak misalnya, maka dia tidak melakukan ini dan itu. Masalahnya, hal itu dia yakini sebagai keyakinan mutlak. APA YANG DATANG DARI ORANG PINTAR ITU PASTI TERJADI!. hal ini MUSYRIK namanya.
Demikian juga halnya dengan yang menolak ramalan, hanya memakai logika belaka…
Ah… nggak logis itu!. yang logis itu begini looh… tanpa menyadari bahwa logikanya bisa juga SALAH… Orang-orang seperti ini juga kategori MUSYRIK, karena dia mentuhankan logikanya. Sekali lagi, Ramalan hanya ramalan… Persentase kebenarannya??? tergantung berapa luas tinjauan, berapa variabel yang digunakan, kecukupan data dll..dll….dll….
Saya ingin memberikan pandangan apa itu gaib, apa itu tidak gaib menurut versi saya sendiri. Sudah pernah lihat film Just Visiting?. itu lho, film yang menceritakan seorang ksatria PRANCIS jadul terdampar di masa kini?. Demikian juga kalau misalkan kita terdampar di jaman majapahit..(ada guyonan –yang mungkin bener juga— dari temen saya: katanya indonesia itu memang dari dulu miskin. buktinya kalau kita lihat film cina jaman dulu, atau film arab jaman dulu, maka pasti pakaiannya bagus-bagus, kainnya panjang-panjang, sementara kalau film indonesia tentang jaman majapahit gitchu, yang laki paling banter pake rompi, kebanyakan nggak pakai, sedangkan yang perempuan hanya pake kemben!). Kembali ke laptop.. eh .. jaman majapahit. Kebetulan waktu itu terdamparnya barengan sama temen, terus bawa HT (soalnya kalau tak contohin radio ntar gak logis, khan nggak ada yang siaran). Kita omong2 sama temen di seberang sana sama HT itu, pasti orang2 majapahit pada heran, kok ada kotak yang bisa ngomong. Terus kita ditanyain begini : nuwun sewu mas, meniko barang punopo, kok saget wicantenan? — permisi mass, ini barang apa kok bisa bicara?. Kira2 apa jawab kita?…………
Dalam kondisi ini, kita harus bisa menjelaskan (dengan segala keterbatasan bahasa mereka) bahwa ini adalah HT. Mungkin kita akan bilang : ini adalah barang untuk komunikasi jarak jauh… Orang majapahitnya nangkep :: oooh, kanjeng sunan juga bisa kalau begitu, kalau mau ada pertemuan di gua pamijahan, kanjeng sunan masuk kamar terus bercakap2 sama sunan2 yang laen.
Karenanya jangan pernah meremehkan seperti misalkan Jangka Jayabaya, ronggowarsito, atau Nabi Muhammad. Mereka tahu masa depan, namun karena kendala bahasa, mereka nggak mungkin dong bilang : masa depan itu nanti akan ada komputer, TV, Pesawat dll dll…
Itu disatu sisi…disisi lainnya, kita sebagai manusia tetap dituntut untuk berpikir rasional. Buktinya?.. Ada ayat yang melarang minum khamr — yang saat ini bisa dikembangkan ke dalam narkotika (jaman dulu ya nggak ada jreng). Pokoknya sesuatu yang membuat kita lupa diri, tidak terkendali.
Ternyata.. Kita memang diminta untuk selalu berpikir logis…
Tetapi kita harus juga mulai rajin memikirkan: misalkan surat At Taubah, yang seperti ini:
[9.50] Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.
[9.51] Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”
[9.52] Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”.
Sudah pasti, nabipun ada saatnya menang perang, ada saatnya kalah. ada saat sedih, ada saat gembira. Orang kafir juga begitu. Mereka kadang menang, kadang kalah.. Tapi Ingat-ingatlah satu hal.. tuhan telah berjanji bahwa mereka2 yang berjuang di jalan Allah tidak akan binasa.. (hal ini insya allah akan saya bahas kemudian)..
Mengapa nabi kalah perang?..ada banyak alasan, tapi satu hal yang cukup menyederhanakan masalah (sekali lagi; menyederhanakan masalah) adalah YA MEMANG HARUS BEGITU!..
Kita bisa saja melakukan analisa : (oh karena orang muslim saat itu gak semangat, gak kompak [perlu ngejreng dulu], ada provokator, terlalu memburu dunia dll..dll…). tapi MEMANG HARUS BEGITU!..
Eh.. kok jadi melebar kemana-mana begini yaa…Tapi yang jelas, bahwa sesuatu yang gaib pada saat ini, bisa jadi masa depan dapat menjadi tidak gaib lagi. contohnya seperti hipnotis. Anda pengin blajar hipnotis, mau teori ada.. praktek lebih ada lagi. bahkan di AS ada fakultas khusus masalah pengobatan dengan hipnotis.
Saya ingat kata orang tua saya : Nak, dadi uwong iku ojo nggumunan, ojo melikan, ojo nyolong , ojo ngapusiNak, jadi orang itu jangan suka heran, jangan suka ingin milik orang lain, jangan mencuri dan jangan menipu..
Saya ingin berkonsentrasi pada satu kata… JANGAN SUKA HERAN..jangan suka >>>nge-WAH-kan<<<>
NAAH, BANGSA KITA BUKAN BANGSA KLENIK!..KALAU SAYA LEBIH SUKA MENYEBUT BANGSA KITA BANGSA YANG SUKA WAAAAAH.. Waaah, rasanya MAK NYOSSS GITU!..
3.7] ……………. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari Sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Sby, Friday, May 25th 07 2:35 pm
Belum ada posting yang berhubungan.

2 komentar pada “Bangsa Indonesia Bangsa KLenik?”
betulll……..
harus berubah biar bisa maju